Senin, 24 Agustus 2009
JENDRAL YANG TERLENA
Ada seorang jendral yg memiliki jabatan sangat penting,disegani,dihormati dan selalu disanjung oleh prajuritnya.Begitu sibuknya ia dengan berbagai kegiatan dan begitu bangga dg berbagai fasilitas dan kekuasaan yg dimilikinya.Pada suatu hari ia pensiun,ternyata begitu terkejutnya,ketika suatu hari,ia didatangi petugas dari bekas korps nya yg meminta ia untuk segera mengembalikan mobil dan mengosongkan rumah dinasnya yg luas dan mewah. Suatu saat sang jendral wafat, ketika berjalan menuju akhirat, dia bertemu dengan malaikat penjaga. Malaikat itu bertanya kepada sang jendral " Anda mau kemana". Jendral pun menjawab " Saya sedang menuju rumah saya di surga". Malaikat heran dan bertanya lagi " Rumah yang mana dan siapa nama anda ". " Nama saya Jendral ANU " jawabnya. malaikat memeriksa daftar orang yang meninggal hari itu dan dia tidak menemukan nama Jendral ANU, malaikat pun berkata " Di dalam daftar yang kupegang ini, tidak ada nama Jendral ANU, yang ada cuma ANU ". Sang jendral terhenyak sejenak, lalu dia baru sadar bahwa jabatan "Jendral" yang selama ini disandangnya tidak berlaku di akhirat. Lalu malaikat menambahkan " Dan kamu tidak memiliki rumah di sini " Mendengar ucapan itu, jendral ANU semakin terkejut. Dia baru sadar bhw selama hidupnya di dunia, dia terlena dg semua sanjungan, penghormatan dan berbagai fasilitas sebagai seorg jendral aktif yg sifatnya sementara. Dia lupa mempersiapkan rumah dan bekal utk masa pensiunnya. Akankah kita senang dengan semua gemerlap fatamorgana kehidupan kita dan sekitarnya yg sementara sifatnya, sehingga kita pun lupa mempersiapkan rumah kita kelak di akhirat dan tidak membekali diri kita dengan iman dan ibadah yg baik. Semoga kita tidak menjadi jendral seperti itu.
HIDAYAH KEHIDUPAN DI TENGAH LAUT
Saya,istri dan sibungsu usia 9 tahun,hari ini diijinkan Allah SWT mengarungi lautan lepas dari Pantai Barat Pangandaran menuju ke Pulau Nusakambangan sekitar 2 jam perjalanan menggunakan perahu nelayan.Pada awal ditawari utk berekreasi ke Nusakambangan (NK) oleh seorg nalayan,kami mendapat cerita bhw pulau NK (5jam perjalanan dr penjara NK) adlh pulau yg indah dan benar2 masih perawan,krn jarang dikunjungi oleh wisatawan lokal,selain alat transportasi hanya menggunakan perahu motor tempel yg sangat sederhana,ombak laut yg ganas dan biaya yg mahal. Karena keingintahuan,maka kami setuju utk kesana.Jam 8 pagi kami sudah siap dengan bekal yg akan dibawa dan berangkatlah menuju pulau NK.Perjalanan dimulai dan memasuki laut bebas dg gelombang yg cukup besar,walaupun saat ini bertiup angin Timur.Sepanjang perjalanan sy hanya bisa berserah dengan doa dan dzikir.Semakin jauh ke tengah laut,ombak semakin besar dan hati pun semakin menciut,belum lagi merasakan bgm perahu kami terangkat ombak dan motor tempel tdk berfungsi karena perahu terangkat ombak.2 jam kami berpacu dg ketegangan yg luar biasa,akhirnya tiba di pulau NK yg luar biasa indahnya,bukan cerita kosong nelayan. Pulau tak berpenghuni yg belum dirusak oleh nafsu manusia,benar2 pulau perawan dg pasir yg benar2 putih bersih dan berkilau, it's amazing island. Sekitar 4 jam kami menikmati dan mensyukuri ciptaan Allah SWT yg menakjubkan. Setelah itu 2 jam kemudian kami kembali memacu adrenalin ditengah laut yg masih blm jg tenang.Si bungsu terlihat agak ketakutan sepanjang pelayaran ditambah ombak yg semakin menggila. Dalam pikiran timbul pertanyaan kenapa saya nekad berlayar dengan perahu sederhana seperti ini dan mengarungi lautan yg begitu tidak bersahabat dan membawa keluarga dan membuat si kecil ketakutan. Setiba di pantai timur Pangandaran,kami kembali ke hotel. Malam hari saya mulai merenungkan apa yg terjadi sepanjang perjalanan kami,khususnya di tengah laut tadi siang. Ketika itulah saya diberi jawaban. Ada bbrp hal yg tidak dapat saya jawab,yakni Pertama,jika berekreasi kami tidak pernah pergi hanya dengan 1 anak,selalu 3 anak ikut.Kali ini semua sudah diatur Allah SWT,bahwa kami hanya membawa anak laki-laki bungsu saja. Sebenarnya kami berencana pergi bertiga,tapi entah kenapa satu persatu anak 1 dan ke 2 tidak bisa ikut,padahal jadwal sudah disesuaikan dg kuliah mereka. Kedua,apa yang Allah SWT ingin sampaikan melalui pengalaman ini. Jawaban yg diberikan Allah SWT sungguh luar biasa. Pada saat makan malam,saya bertanya pd anak saya,apakah dia takut ketika di tengah laut siang tadi. Dia menjawab takut terhadap gelombang laut. Pada saat dia menjawab, saya mendapatkan hidayah untuk menjawab seperti ini. Kenapa kamu yg diijinkan Allah SWT mengalami kejadian ini, karena laki-laki adalah imam dan pemimpin dalam keluarga, yang harus tegar menghadapi segala ujian. Pengalaman di tengah laut tadi adalah perjalanan hidup kita,yg tidak selalu lurus dan mulus. Ombak adalah analogi permasalahan dan tantangan hidup kita selama di dunia,dimana kadangkala kita harus menghadapinya sendiri. Doa dan Dzikir adalah satu-satunya kekuatan yg kita andalkan untuk melalui berbagai tantangan hidup dan pulau Nusakambangan yg indah adalah lambang akhir perjalanan hidup kita di dunia dan bermuara pada keindahan dan kekekalan. Suatu hikmah dan hidayah yang Allah SWT sudah sampaikan kepada kami terutama bagi anak laki-laki bungsu kami.Subhanallah.
KENALILAH TANDA JAMAN
Siapapun berhak untuk tidak mempercayai tentang ramalan, prediksi, perhitungan dan sebagainya tentang kontroversi bencana besar yang diperkirakan akan terjadi pada tanggal 21-12-2012. Kita tidak perlu menghakimi siapapun yang mempercayai hal itu dengan mengatakannya sebagai orang yang musryik dan sebagainya. Percaya tidak selalu harus "beriman". Musryik terjadi jika kita mengimani dan meyakini sesuatu melebihi iman kepada Allah SWT, sehingga menyekutukannya dengan NYA. Itu yang dilarang oleh Allah SWT.
Tanggal 21-12-2012 adalah suatu prediksi atau perhitungan kalender berdasarkan keilmuan yang terkait dengan kemampuan suku Maya di pedalaman Meksiko dalam hal ilmu falak, serta penelitian dan analisa para ilmuwan yang ahli dibidang astrologi dan antariksa. Orang mengunakan berbagai ilmu pengetahuan, penafsiran, perhitungan bahkan ramalan untuk mencoba melakukan analisa dan telaah dengan mengaitkannya dengan berbagai kejadian alam pada beberapa tahun terakhir ini dengan sistem perhitungan kalender suku Maya yang berhenti tepat pada tahun 2012.
Diluar kesibukan para ahli mengkaji berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada waktu tersebut, sebagai orang beriman, kita telah diajarkan untuk memperhatikan tanda-tanda jaman yang diberikan Allah SWT pada setiap kejadian di dalam kehidupan atau kejadian alam di sekitar kita, namun banyak dari kita kurang peduli dan bahkan mengabaikan hal itu. Contoh kejadian yang sederhana adalah isu tentang Global Warming (pemanasan global) yang jelas merupakan adalah salah satu tanda kejadian alam yang luar biasa, cobalah perhatikan, saya pribadi belum pernah mengalami panasnya matahari di kota hujan seperti Bogor misalnya, yang mencapai 37-38 derajat celcius sepanjang usia saya 48 tahun, lahir dan tinggal di kota ini, dan hal itu saat ini terjadi.
Kita melihat berbagai wabah penyakit aneh merebak hampir di seluruh dunia, seperti flu burung, flu babi atau flu Meksiko yang berasal dari binatang atau flu massal yang mewabah secara dahsyat di negeri kita ini, akibat perubahan iklim yang sangat ekstrem. Terjadinya berbagai bencana alam dahsyat di berbagai belahan dunia beberapa tahun terakhir ini, yang intensitas kejadiannya sangat sering dan dahsyat serta tanpa dapat diprediksi sebelumnya. Perang dan berbagai kejahatan yang dilakukan manusia atas manusia, ibu membunuh anak kandungnya sendiri, ayah membunuh diri bersama anak-anaknya dan kejahatan yang sangat mengerikan. Apakah kita hanya menganggap semua ini sesuatu yang “kebetulan” ?
Dari kutipan buku KAMUS AL QURAN yang disusun oleh Deni Hamdani Firdaus S.Pd.I yang diterbitkan Pustaka Ancala halaman 193 tertulis sebagai berikut :
- Keadaan Langit Di Hari Kiamat
Pada hari itu langit pecah belah, mengeluarkan kabut, terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak.Kemudian langit itu dilenyapkan. (Dikutip dari Al Quran surah 025:025,055:037,084:001-002,081:011)
- Keadaan Bintang, Bulan dan Matahari
Pada hari kiamat itu matahari diguilung dan bintang-bintang jatuh berserakan, bulan terbelah dan bulan kehilangan cahayanya. Saat itu matahari dan bulan dikumpulkan dan langit digulung. (Dikutip dari Al Quran surah 081:001-002,082:002,054:001,075:008-009)
- Keadaan Bumi Pada Hari Kiamat
Saat kiamat itu gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya seperti bulu yang dihambur-hamburkan, dihancurkan hingga keadaan bumi datar sama sekali, tidak terlihat ada yang rendah dan yang tinggi. Bersamaan dengan itu pula lautan meluap., bumi diguncangkan dengan guncangan dahsyat, bumi mengeluarkan beban berat yang dikandungnya, semuanya patuh dan sudah semestinya patuh. (Dikutip dari Al Quran surah 081:003,101:005,020:105,020:107,081:006,099:001-002,084:003-005)
Dari kutipan kejadian di atas yang telah tertulis dalam Al Quran, sebenarnya sudah diberitahu dengan jelas, agar kita mengamati semua tanda-tanda alam yang terjadi, sebagai rambu peringatan bagi umat manusia.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk menakut-nakuti, tetapi mengajak agar manusia secara arif melihat semua kejadian di sekitar kita beberapa waktu terakhir ini, tidak hanya menggunakan “mata fisik” saja tetapi belajar memahami semua kejadian di dalam kehidupan kita dengan “MATA IMAN” yang sudah dikaruniai Allah SWT kepada setiap manusia. Bukankah Allah SWT seringkali menyampaikan pesan kepada kita melalui kejadian-kejadian alam, kehidupan sehari-hari yang sering luput dari perhatian kita, karena kita sudah terbiasa dengan kata “KEBETULAN” atau terlena akibat kesibukan “duniawi” kita masing-masing.
Ingatkah kita sebelum kumandang adzan subuh selalu terdengar kumandang kalimat "Asshalatu choirun minnan naum" yang arti harafiahnya lebih baik sholat daripada tidur, yang berperan sebagai alarm bagi setiap umat Islam, agar segera bangun dari lelapnya tidur dan mempersiapkan diri untuk melakukan ibadah sholat subuh. Saya mengajak pembaca untuk menelaah secara mendalam, makna yang terkandung dalam kalimat "Asshalatu choirun minnan naum" yang sekilas terkesan sangat sederhana.
Ada dua makna yang sangat penting dari kalimat itu, yakni pertama adalah kata Sholat dan Tidur. Ajakan kepada kita untuk sholat dalam kalimat ini, memiliki makna yang sangat luas dan tidak semata-mata hanya menunjuk pada waktu subuh atau bahkan 5 waktu semata, tapi menunjuk kepada detik demi detik kehidupan kita setiap harinya.
Di dalam Islam kita berkewajiban untuk melaksanakan ibadah sholat 5 waktu dalam sehari. Sholat 5 waktu itu melingkupi 24 jam sehari dalam kehidupan kita. 24 jam sama dengan 1440 menit atau sama dengan 86.400 detik.
Allah SWT mengingatkan kepada kita bahwa hubungan kita dengan Allah tidak hanya sebatas sholat 5 waktu itu saja, tetapi sesungguhnya 24 jam sehari. Sehingga melalui ungkapan "Asshalatu choirun minnan naum" kita selalu diingatkan agar jangan sampai satu detik pun “iman” dan “taqwa” kita tertidur.
Fisik bisa lelah dan tertidur, namun “iman” dan “taqwa” kita dituntut harus selalu “ON” agar jaringan komunikasi bathin kita tidak pernah terputus dengan Allah SWT alias tetap “ONLINE”. Bisa dibayangkan apa akibatnya jika suatu saat, hubungan kita terputus dengan “SUMBER KEHIDUPAN“ kita.
Apabila benar pada tanggal 21-12-2012 akan terjadi perubahan atau gejolak alam yang sangat dahsyat, itu berarti, waktu kita hanya tersisa kurang lebih 3 tahun. Mengamati reaksi yang terjadi di dalam masyarakat terhadap pemberitaan tentang 21-12-2012, ada yang resah dan panik sebaliknya juga ada yg tidak peduli.
Ketidakpedulian, jika karena yang bersangkutan "yakin dan pasrah" akan kuasa Allah SWT itu masih baik, tetapi bagaimana terhadap orang yang tidak pedulinya akibat ketidaktahuan atau memang tidak mau peduli ?
Pertanyaaan yang timbul adalah bagaimana jika apa yang dikuatirkan banyak orang tentang bencana pada tanggal 21-12-2012 itu akhirnya benar-benar terjadi sebagaimana ramalan atau prediksi para peramal, ilmuwan dan sebagainya, yakni bumi akan hancur dan sebagian besar manusia akan mati karenanya ?
Atau pertanyaan sebaliknya, bagaimana jika ternyata pada tanggal tersebut tidak terjadi sesuatu apapun ?
Kematian pasti datang, tanpa bisa kita duga atau prediksi waktunya dan jika saat itu datang, kapanpun, dimanapun, apakah kematian akibat terjadinya bencana pada tanggal 21-12-2012 atau bukan, kita harus siap menghadapinya, karena itulah Takdir Allah SWT. Siapkah kita akan hal itu ?
Marilah, di bulan penuh Anugerah dan Pengampunan ini, kita renungkan kalimat "Asshalatu choirun minnan naum", akankah kita akan tetap membiarkan “iman” dan “taqwa” kita terus tertidur lelap sementara tanda-tanda jaman sudah mulai dinyatakan oleh Allah SWT. Itulah makna mendalam kalimat "Asshalatu choirun minnan naum"
Ingatlah peringatan yang sudah disampaikan melalui Al Quran surah Al Hajj 22:1 yakni :
“ Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat) “
Marilah kita bersama-sama belajar bagaimana menjaga agar lampu pelita “iman” dan “taqwa” tetap menyala terus menerus 24 jam, 1440 menit dan 86.400 detik sepanjang hidup kita, walau apapun yang akan terjadi dan semoga kita senantiasa diberikan hidayah serta kepekaan bathin untuk mampu menyimak tanda-tanda jaman yang Allah SWT nyatakan di dalam kehidupan kita sehari-hari dan melalui kejadian alam yang kita lihat. Amin, Amin Ya Rabbal Alamin.
Pimpin Nagawan
20 Agustus 2009
Tanggal 21-12-2012 adalah suatu prediksi atau perhitungan kalender berdasarkan keilmuan yang terkait dengan kemampuan suku Maya di pedalaman Meksiko dalam hal ilmu falak, serta penelitian dan analisa para ilmuwan yang ahli dibidang astrologi dan antariksa. Orang mengunakan berbagai ilmu pengetahuan, penafsiran, perhitungan bahkan ramalan untuk mencoba melakukan analisa dan telaah dengan mengaitkannya dengan berbagai kejadian alam pada beberapa tahun terakhir ini dengan sistem perhitungan kalender suku Maya yang berhenti tepat pada tahun 2012.
Diluar kesibukan para ahli mengkaji berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada waktu tersebut, sebagai orang beriman, kita telah diajarkan untuk memperhatikan tanda-tanda jaman yang diberikan Allah SWT pada setiap kejadian di dalam kehidupan atau kejadian alam di sekitar kita, namun banyak dari kita kurang peduli dan bahkan mengabaikan hal itu. Contoh kejadian yang sederhana adalah isu tentang Global Warming (pemanasan global) yang jelas merupakan adalah salah satu tanda kejadian alam yang luar biasa, cobalah perhatikan, saya pribadi belum pernah mengalami panasnya matahari di kota hujan seperti Bogor misalnya, yang mencapai 37-38 derajat celcius sepanjang usia saya 48 tahun, lahir dan tinggal di kota ini, dan hal itu saat ini terjadi.
Kita melihat berbagai wabah penyakit aneh merebak hampir di seluruh dunia, seperti flu burung, flu babi atau flu Meksiko yang berasal dari binatang atau flu massal yang mewabah secara dahsyat di negeri kita ini, akibat perubahan iklim yang sangat ekstrem. Terjadinya berbagai bencana alam dahsyat di berbagai belahan dunia beberapa tahun terakhir ini, yang intensitas kejadiannya sangat sering dan dahsyat serta tanpa dapat diprediksi sebelumnya. Perang dan berbagai kejahatan yang dilakukan manusia atas manusia, ibu membunuh anak kandungnya sendiri, ayah membunuh diri bersama anak-anaknya dan kejahatan yang sangat mengerikan. Apakah kita hanya menganggap semua ini sesuatu yang “kebetulan” ?
Dari kutipan buku KAMUS AL QURAN yang disusun oleh Deni Hamdani Firdaus S.Pd.I yang diterbitkan Pustaka Ancala halaman 193 tertulis sebagai berikut :
- Keadaan Langit Di Hari Kiamat
Pada hari itu langit pecah belah, mengeluarkan kabut, terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak.Kemudian langit itu dilenyapkan. (Dikutip dari Al Quran surah 025:025,055:037,084:001-002,081:011)
- Keadaan Bintang, Bulan dan Matahari
Pada hari kiamat itu matahari diguilung dan bintang-bintang jatuh berserakan, bulan terbelah dan bulan kehilangan cahayanya. Saat itu matahari dan bulan dikumpulkan dan langit digulung. (Dikutip dari Al Quran surah 081:001-002,082:002,054:001,075:008-009)
- Keadaan Bumi Pada Hari Kiamat
Saat kiamat itu gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya seperti bulu yang dihambur-hamburkan, dihancurkan hingga keadaan bumi datar sama sekali, tidak terlihat ada yang rendah dan yang tinggi. Bersamaan dengan itu pula lautan meluap., bumi diguncangkan dengan guncangan dahsyat, bumi mengeluarkan beban berat yang dikandungnya, semuanya patuh dan sudah semestinya patuh. (Dikutip dari Al Quran surah 081:003,101:005,020:105,020:107,081:006,099:001-002,084:003-005)
Dari kutipan kejadian di atas yang telah tertulis dalam Al Quran, sebenarnya sudah diberitahu dengan jelas, agar kita mengamati semua tanda-tanda alam yang terjadi, sebagai rambu peringatan bagi umat manusia.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk menakut-nakuti, tetapi mengajak agar manusia secara arif melihat semua kejadian di sekitar kita beberapa waktu terakhir ini, tidak hanya menggunakan “mata fisik” saja tetapi belajar memahami semua kejadian di dalam kehidupan kita dengan “MATA IMAN” yang sudah dikaruniai Allah SWT kepada setiap manusia. Bukankah Allah SWT seringkali menyampaikan pesan kepada kita melalui kejadian-kejadian alam, kehidupan sehari-hari yang sering luput dari perhatian kita, karena kita sudah terbiasa dengan kata “KEBETULAN” atau terlena akibat kesibukan “duniawi” kita masing-masing.
Ingatkah kita sebelum kumandang adzan subuh selalu terdengar kumandang kalimat "Asshalatu choirun minnan naum" yang arti harafiahnya lebih baik sholat daripada tidur, yang berperan sebagai alarm bagi setiap umat Islam, agar segera bangun dari lelapnya tidur dan mempersiapkan diri untuk melakukan ibadah sholat subuh. Saya mengajak pembaca untuk menelaah secara mendalam, makna yang terkandung dalam kalimat "Asshalatu choirun minnan naum" yang sekilas terkesan sangat sederhana.
Ada dua makna yang sangat penting dari kalimat itu, yakni pertama adalah kata Sholat dan Tidur. Ajakan kepada kita untuk sholat dalam kalimat ini, memiliki makna yang sangat luas dan tidak semata-mata hanya menunjuk pada waktu subuh atau bahkan 5 waktu semata, tapi menunjuk kepada detik demi detik kehidupan kita setiap harinya.
Di dalam Islam kita berkewajiban untuk melaksanakan ibadah sholat 5 waktu dalam sehari. Sholat 5 waktu itu melingkupi 24 jam sehari dalam kehidupan kita. 24 jam sama dengan 1440 menit atau sama dengan 86.400 detik.
Allah SWT mengingatkan kepada kita bahwa hubungan kita dengan Allah tidak hanya sebatas sholat 5 waktu itu saja, tetapi sesungguhnya 24 jam sehari. Sehingga melalui ungkapan "Asshalatu choirun minnan naum" kita selalu diingatkan agar jangan sampai satu detik pun “iman” dan “taqwa” kita tertidur.
Fisik bisa lelah dan tertidur, namun “iman” dan “taqwa” kita dituntut harus selalu “ON” agar jaringan komunikasi bathin kita tidak pernah terputus dengan Allah SWT alias tetap “ONLINE”. Bisa dibayangkan apa akibatnya jika suatu saat, hubungan kita terputus dengan “SUMBER KEHIDUPAN“ kita.
Apabila benar pada tanggal 21-12-2012 akan terjadi perubahan atau gejolak alam yang sangat dahsyat, itu berarti, waktu kita hanya tersisa kurang lebih 3 tahun. Mengamati reaksi yang terjadi di dalam masyarakat terhadap pemberitaan tentang 21-12-2012, ada yang resah dan panik sebaliknya juga ada yg tidak peduli.
Ketidakpedulian, jika karena yang bersangkutan "yakin dan pasrah" akan kuasa Allah SWT itu masih baik, tetapi bagaimana terhadap orang yang tidak pedulinya akibat ketidaktahuan atau memang tidak mau peduli ?
Pertanyaaan yang timbul adalah bagaimana jika apa yang dikuatirkan banyak orang tentang bencana pada tanggal 21-12-2012 itu akhirnya benar-benar terjadi sebagaimana ramalan atau prediksi para peramal, ilmuwan dan sebagainya, yakni bumi akan hancur dan sebagian besar manusia akan mati karenanya ?
Atau pertanyaan sebaliknya, bagaimana jika ternyata pada tanggal tersebut tidak terjadi sesuatu apapun ?
Kematian pasti datang, tanpa bisa kita duga atau prediksi waktunya dan jika saat itu datang, kapanpun, dimanapun, apakah kematian akibat terjadinya bencana pada tanggal 21-12-2012 atau bukan, kita harus siap menghadapinya, karena itulah Takdir Allah SWT. Siapkah kita akan hal itu ?
Marilah, di bulan penuh Anugerah dan Pengampunan ini, kita renungkan kalimat "Asshalatu choirun minnan naum", akankah kita akan tetap membiarkan “iman” dan “taqwa” kita terus tertidur lelap sementara tanda-tanda jaman sudah mulai dinyatakan oleh Allah SWT. Itulah makna mendalam kalimat "Asshalatu choirun minnan naum"
Ingatlah peringatan yang sudah disampaikan melalui Al Quran surah Al Hajj 22:1 yakni :
“ Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat) “
Marilah kita bersama-sama belajar bagaimana menjaga agar lampu pelita “iman” dan “taqwa” tetap menyala terus menerus 24 jam, 1440 menit dan 86.400 detik sepanjang hidup kita, walau apapun yang akan terjadi dan semoga kita senantiasa diberikan hidayah serta kepekaan bathin untuk mampu menyimak tanda-tanda jaman yang Allah SWT nyatakan di dalam kehidupan kita sehari-hari dan melalui kejadian alam yang kita lihat. Amin, Amin Ya Rabbal Alamin.
Pimpin Nagawan
20 Agustus 2009
Rabu, 17 Juni 2009
HIDUP DARI KEMURAHAN ALLAH
Perjalanan spiritual bersama Allah SWT terus berlangsung dan tiada akhir sampai saya kembali ke haribaann NYA. Saya bersyukur karena saya diijinkan mengalami berbagai pengalaman spiritual dari detik ke detik. Saya sadari bahwa semua pengalaman bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi ini merupakan amanah yang wajib saya bagikan kepada semua orang, untuk memotivasi iman, keyakinan serta taqwa setiap manusia yang mengaku dirinya beriman.
Pengalaman spiritual ini terjadi menjelang kelulusan SLTA tahun 2008 yang lalu, saat itu anak kami yang kedua akan segera lulus dan harus mulai menentukan kemana akan melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi.Kami sudah berkali-kali bertanya kepadanya, apa keinginan dia utk melanjutkan sekolah. Dia pernah menjawab ke kedokteran, karena jurusan yang ia ambil IPA. Waktu itu kami belum berkomentar, karena masih di smester satu kelas III, tapi terus memonitor nilai-nilai setiap pelajaran yang akan mendukung keputusan akhir ke arah minatnya.
Beberapa bulan menjelang ujian akhir sekolah, kami kembali bertanya kepadanya, bagaimana dengan niat kuliahnya, dia kembali menjawab ke kedokteran, tapi kali ini ke kedokteran gigi. Ternyata minat itu bukan murni datang dari dirinya, tetapi datang dari orang lain.
Kami memiliki kebiasaan memonitor perkembangan anak sejak kecil, karena kami yakin Allah SWT sudah menentukan arah hidup setiap orang memlalui bakat atau talenta sejak anak masih kecil. Anak kedua ini, senang dengan pekerjaan tangan apakah itu origami (kerajinan tangan dari kertas seperti menbuat burung, buah-buahan, bunga), kristik dan sejenisnya.
Ketika kami diskusi lebih mendalam terhadap nilai smester 2 nya, kami melihat bahwa nilai yang seharusnya mendukung minatnya ke kedokteran tidak memadai, dia mulai menyadari. Lalu kami mencoba menawarkan alternatif lain, yaitu sekolah mode di sekolah mode di bilangan Cipete. Suatu hari kami ajak dia meninjau ke kampus tersebut, mendengar penjelasan langsung dari pihak kampus dan meninjau setiap ruang kuliah. Melihat kegiatan perkuliahan seperti itu, dia tertarik dan setuju untuk beralih ke sekolah mode.
Dalam pikiran sederhana kami, biaya kuliah di sekolah ini tidak akan semahal jika kuliah di perguruan tinggi lain pada umumnya. Ketika kami bertanya tentang biaya kuliah per tahun, kami cukup terkejut yakni 48juta untuk tahun pertama, dan biasanya naik sekitar 10% setiap tahunnya, itupun belum termasuk peralatan dan buku. Jika mau membayar sekaligus, mereka menawarkan program bayar 3 tahun sekaligus yakni 135juta. Kami kaget karena tidak menduga semahal itu dan jangankan sekaligus membayar 3 tahun, untuk bayar yang tahun pertama saja kami sudah bingung. Untuk membatalkan, kami tidak tega, karena dia sudah suka dan memang itu sesuai dengan bakatnya.
Sejujurnya kami memang tidak memiliki dana sebesar itu, kami sempat sedih membayangkan perasaan anak ini yang sudah pas antara bakat dan pendidikan yang ia kehendaki. Kami hanya bisa berdoa dan menangis di hadapan Allah SWT, kami berdoa jika Allah SWT mengijinkan anak kami untuk bersekolah di tempat ini, kami mohon bukakan dan lancarkan jalannya. Itulah doa kami dan selanjutnya kami pasrahkan kepada NYA.
Tes masuk ke tempat itu tetap dilakukan, walaupun kami belum memiliki kepastian untuk membayar biaya kuliahnya. Hasil tes, anak kami diterima walaupun ujian akhir SLTA belum dilakukan. Kami sengaja belum membuat keputusan, disamping dana yang belum ada dan anak kami juga belum ketahuan lulus tidaknya.
Pengumuman kelulusan pun tiba, ini berarti kami harus segera mengambil keputusan untuk melanjutkan proses kuliah kami di perguruan tinggi itu atau mencari alternatif lainnya. Doa tidak putus-putusnya kami sampaikan, karena harapan kami hanya benar-benar pada pertolongan Allah SWT semata. 1 minggu menjelang batas akhir pembayaran uang kuliah saya mendapat bonus dari perusahaan sebesar 130 juta. Itu berarti Allah SWT memberikan berkat sesuai kebutuhan dalam nilai dan waktunya. Subhanallah. Alhamdulillah, akhirnya anak kami bisa kuliah.
Sampai detik ini, kami hidup hanya berpasrah pada Allah SWT, saya suka bercanda dengan istri, jika ada yang bertanya apakah kita punya deposito di bank atau investasi di tempat lain, katakan saja ada yakni di Bank YATIM dan Bank DHUAFA, kalau mereka bingung dan bertanya dimana adanya bank-bank itu. Jawab saja cabangnya di bumi dan pusatnya di akhirat.
Semoga apa yang saya alami ini, bisa menguatkan keyakinan kita bahwa jika kita yakin dan pasrah serta tidak pernah melupakan anak-anak yatim dan kaum dhuafa yang memang sudah menjadi sebagian tanggungjawab kita, insay Allah, pintu pertolongan dan kemudahan itu selalu Allah SWT berikan kepada kita. Amin
Pengalaman spiritual ini terjadi menjelang kelulusan SLTA tahun 2008 yang lalu, saat itu anak kami yang kedua akan segera lulus dan harus mulai menentukan kemana akan melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi.Kami sudah berkali-kali bertanya kepadanya, apa keinginan dia utk melanjutkan sekolah. Dia pernah menjawab ke kedokteran, karena jurusan yang ia ambil IPA. Waktu itu kami belum berkomentar, karena masih di smester satu kelas III, tapi terus memonitor nilai-nilai setiap pelajaran yang akan mendukung keputusan akhir ke arah minatnya.
Beberapa bulan menjelang ujian akhir sekolah, kami kembali bertanya kepadanya, bagaimana dengan niat kuliahnya, dia kembali menjawab ke kedokteran, tapi kali ini ke kedokteran gigi. Ternyata minat itu bukan murni datang dari dirinya, tetapi datang dari orang lain.
Kami memiliki kebiasaan memonitor perkembangan anak sejak kecil, karena kami yakin Allah SWT sudah menentukan arah hidup setiap orang memlalui bakat atau talenta sejak anak masih kecil. Anak kedua ini, senang dengan pekerjaan tangan apakah itu origami (kerajinan tangan dari kertas seperti menbuat burung, buah-buahan, bunga), kristik dan sejenisnya.
Ketika kami diskusi lebih mendalam terhadap nilai smester 2 nya, kami melihat bahwa nilai yang seharusnya mendukung minatnya ke kedokteran tidak memadai, dia mulai menyadari. Lalu kami mencoba menawarkan alternatif lain, yaitu sekolah mode di sekolah mode di bilangan Cipete. Suatu hari kami ajak dia meninjau ke kampus tersebut, mendengar penjelasan langsung dari pihak kampus dan meninjau setiap ruang kuliah. Melihat kegiatan perkuliahan seperti itu, dia tertarik dan setuju untuk beralih ke sekolah mode.
Dalam pikiran sederhana kami, biaya kuliah di sekolah ini tidak akan semahal jika kuliah di perguruan tinggi lain pada umumnya. Ketika kami bertanya tentang biaya kuliah per tahun, kami cukup terkejut yakni 48juta untuk tahun pertama, dan biasanya naik sekitar 10% setiap tahunnya, itupun belum termasuk peralatan dan buku. Jika mau membayar sekaligus, mereka menawarkan program bayar 3 tahun sekaligus yakni 135juta. Kami kaget karena tidak menduga semahal itu dan jangankan sekaligus membayar 3 tahun, untuk bayar yang tahun pertama saja kami sudah bingung. Untuk membatalkan, kami tidak tega, karena dia sudah suka dan memang itu sesuai dengan bakatnya.
Sejujurnya kami memang tidak memiliki dana sebesar itu, kami sempat sedih membayangkan perasaan anak ini yang sudah pas antara bakat dan pendidikan yang ia kehendaki. Kami hanya bisa berdoa dan menangis di hadapan Allah SWT, kami berdoa jika Allah SWT mengijinkan anak kami untuk bersekolah di tempat ini, kami mohon bukakan dan lancarkan jalannya. Itulah doa kami dan selanjutnya kami pasrahkan kepada NYA.
Tes masuk ke tempat itu tetap dilakukan, walaupun kami belum memiliki kepastian untuk membayar biaya kuliahnya. Hasil tes, anak kami diterima walaupun ujian akhir SLTA belum dilakukan. Kami sengaja belum membuat keputusan, disamping dana yang belum ada dan anak kami juga belum ketahuan lulus tidaknya.
Pengumuman kelulusan pun tiba, ini berarti kami harus segera mengambil keputusan untuk melanjutkan proses kuliah kami di perguruan tinggi itu atau mencari alternatif lainnya. Doa tidak putus-putusnya kami sampaikan, karena harapan kami hanya benar-benar pada pertolongan Allah SWT semata. 1 minggu menjelang batas akhir pembayaran uang kuliah saya mendapat bonus dari perusahaan sebesar 130 juta. Itu berarti Allah SWT memberikan berkat sesuai kebutuhan dalam nilai dan waktunya. Subhanallah. Alhamdulillah, akhirnya anak kami bisa kuliah.
Sampai detik ini, kami hidup hanya berpasrah pada Allah SWT, saya suka bercanda dengan istri, jika ada yang bertanya apakah kita punya deposito di bank atau investasi di tempat lain, katakan saja ada yakni di Bank YATIM dan Bank DHUAFA, kalau mereka bingung dan bertanya dimana adanya bank-bank itu. Jawab saja cabangnya di bumi dan pusatnya di akhirat.
Semoga apa yang saya alami ini, bisa menguatkan keyakinan kita bahwa jika kita yakin dan pasrah serta tidak pernah melupakan anak-anak yatim dan kaum dhuafa yang memang sudah menjadi sebagian tanggungjawab kita, insay Allah, pintu pertolongan dan kemudahan itu selalu Allah SWT berikan kepada kita. Amin
Senin, 01 Juni 2009
JANGAN BERHITUNG DENGAN ALLAH SWT
I. PENDAHULUAN
Manusia dikaruniai oleh Allah SWT akal budi yang membedakannya dengan makhluk lain. Kepandaian menjadi karunia yang sangat berharga bagi manusia, sehingga kita mampu bertahan hidup dan bersiasat untuk menghadapi berbagai kemelut dan persoalan hidup di dunia. Keunggulan yang diberikan Allah SWT lalu membuat manusia mampu menciptakan deretan angka yang banyak membantu manusia di dalam berbagai ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan merupakan karunia Allah SWT yang memberikan nilai tambah kepada manusia didalam mengelola alam semesta dan kehidupan dengan melahirkan berbagai disiplin ilmu, yang menopang kehidupan manusia di dunia.
Dari berbagai ilmu pengetahuan yang dihasilkan, penulis hanya akan membahas tentang angka yang dijadikan manusia sebagai alat ukur baik untuk sarana menghitung. Dari angka, manusia kemudian menciptakan nilai yang digunakan untuk mengukur besar kecil, panjang lebar, jauh dekat sampai dengan dasar penilaian terhadap sesuatu.
Ketika manusia mulai mengenal dan menggunakan angka sebagai suatu standar ukur, maka terciptalah nilai besar dan kecil dalam segala hal. Imbas dari kepandaian manusia dalam berhitung ternyata juga termasuk menghitung "Berkat" yang Allah SWT berikan kepada manusia.
Akibatnya, manusia menetapkan nilai, misalnya jika angka satu dibandingkan dengan 1000 adalah kecil dan seterusnya. Lebih parahnya, manusia juga mengukur berkat yang Allah SWT berikan menggunakan standar angka kecil dan besar tersebut.
Banyak diantara kita yang mengucapkan "Alhamdulillah" yang bobot imannya berbeda, manakala satu dengan lainnya menerima nilai berkat yang berbeda. Sebagai contoh, ketika A mendapat rejeki Rp.1000, ia kadang hanya berguman "kebetulan" hari ini "hanya" mendapat Rp.1000 atau hari ini kurang beruntung karena "hanya" mendapat Rp.1000,-. Akan berbeda ketika ia mendapat berkat Rp.100.000,-, pernyataan yang keluar dari mulutnya adalah lebih ringan dan spontan, yakni Alhamdullilah rejeki lagi bagus dan ungkapan lainnya, bahkan teriakannya akan lebih keras lagi , jika ia mendapatkan berkat yang lebih besar lagi.
Tulisan ini mengajak kita untuk merenung, begitukah sikap kita ketika Allah SWT menurunkan berkatnya kepada kita. Yang mengatakan bahwa Rp.1000,- itu kecil dan Rp.100.000,- itu besar apakah Allah SWT ? jawabannya bukan, itu hanya ungkapan kita sebagai manusia yang menggunakan tolok ukur duniawi yang kemudian diterapkan dalam kaitan hubungan dengan Allah SWT.
II. MENGHITUNG BERKAT DARI ALLAH SWT
Bisa dan beranikah kita menghitung berapa berkat yang Allah SWT telah berikan kepada kita sepanjang hidup. Mudah-mudahan kita dijauhi dari pemikiran seperti itu. Jika penulis membayangkan diri sendiri, rasanya sebutir pasir diantara hamparan pasir di padang gurun, masih terlalu besar, jika dibandingkan dengan berkat dan kasih sayang Allah SWT kepada penulis selama ini.
Ingat, kita tidak memiliki apapun yang bisa disombongkan di hadapan Allah SWT, bayangkan jasad yang terbujur di hadapan kita yang tak lama kemudian akan menyatu dengan tanah dan habis ditelan bumi, itulah sesungguhnya manusia. Tapi kita sering lupa, kita menganggap bahwa nilai Rp.1000,- itu seolah-olah bukan berasal dari Allah SWT, tapi hanya "Kebetulan", tapi jika nilai yang dianggap manusia dapat memuaskan nafsunya, maka itulah berkat dari Allah SWT.
Kita sering mengukur kasih sayang Allah SWT dari sisi jumlah atau kuantitas, tapi lupa bahwa Allah SWT, maha mengetahui, DIA mengetahui secara tepat apa kebutuhan kita pada saat DIA berikan berkat itu. Nafsu serakah yang telah menggelapkan mata hati kita, sehingga ketika berkat yang kita dapat tidak sesuai dengan nafsu itu, maka hal tersebut dianggap bukan adari Allah SWT.
Manusia cenderung ingin berlebihan, kita lupa bahwa kenikmatan hidup diperoleh ketika kita hidup berkecukupan. Doa saya memohon kepada Allah SWT agar senantiasa memberikan rejeki yang cukup bagi keluarga, karena saya sadar jika saya memiliki rejeki yang berlebihan, mungkin saya akan jauh dari Allah SWT, menjadi lupa diri dan sebagainya.
Kecukupan memiliki makna yang sangat mendalam dalam hubungan dengan Allah SWT, karena menjadikan diri kita hanya bergantung dan berharap kepada NYA, karena kita sadar semua yang kita miliki berasal dari NYA. Kita memiliki iman dan keyakinan, bahwa apa yang kita miliki, semua hanya titipan belaka, sehingga berkat sekecil apapun yang kita dapatkan lalu kita syukuri, semua akan menjadikan nikmat yang luar biasa. Sebaliknya apa yang kita dapatkan dan tidak pernah kita syukuri, itulah NAFSU.
Saya yakin, semua bermula dari hal yang kecil. Jika kita senantiasa ingat mensyukuri segalanya dari hal terkecil dalam hidup kita, insya Allah, Allah SWT akan menambahkan berkatnya. Begitu pula sebaliknya, jika kita menjadi manusia yang tidak pernah bersyukur, apa yang ada pada kita, akan diambil NYA.
III. MANUSIA WAJIB BERTANGGUNGJAWAB
Setiap manusia pasti akan dimintakan pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT. Begitu pula terhadap berkat yang Allah SWT berikan kepada kita selama hidup di dunia, akan dimintai pertanggungjawaban. Mereka yang diberkati luar biasa oleh Allah SWT dengan kekayaan yang berlimpah, akan dimintai pertanggungjawaban sesuai dengan apa yang sudah Allah SWT berikan kepadanya. Semakin kita diberkati, bukan hanya semakin besar nikmat yang kita rasakan tetapi semakin berat pula pertanggungjawaban yang dituntut dari kita.
Hal ini bukan menakut-nakuti agar manusia tidak boleh menjadi kaya. Boleh ! Tapi dengan syarat agar kita selalu ingat, bahwa apa yang Allah SWT berikan dengan segala kelebihannya itu, bukan hanya untuk diri sendiri. Kita diajar untuk beramal dan bersedekah, selalu ingat kepada kaum dhuafa dan anak yatim. Kita dituntut untuk menjadikan kekayaan kita sebagai selimut bagi kaum miskin, atap bagi kaum gelandangan dan makanan bagi orang-orang kelaparan.
Nikmati dan syukuri semua yang kita rasakan dan dapatkan karena Allah SWT, tanpa kecuali, tanpa mengukur besar atau kecil. Mulailah menerima apapun yang disediakan Allah SWT dalam hidup kita dengan penuh syukur, yakinlah bahwa Allah SWT memberikan kepada kita sesuai apa yang kita butuhkan, tanpa kekurangan tetapi senantiasa berkecukupan.
Semoga Allah SWT mendengar doa mereka yang tertawa akibat kelebihannya dan menangis karena kekurangannya dan keduanya sadar bahwa sesungguhnya Allah SWT sudah menggariskan takdir kepada setiap manusia, sesuai dengan kodrat NYA. Syukurilah itu semua. Amin,amin,amin ya robbal alamin
Manusia dikaruniai oleh Allah SWT akal budi yang membedakannya dengan makhluk lain. Kepandaian menjadi karunia yang sangat berharga bagi manusia, sehingga kita mampu bertahan hidup dan bersiasat untuk menghadapi berbagai kemelut dan persoalan hidup di dunia. Keunggulan yang diberikan Allah SWT lalu membuat manusia mampu menciptakan deretan angka yang banyak membantu manusia di dalam berbagai ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan merupakan karunia Allah SWT yang memberikan nilai tambah kepada manusia didalam mengelola alam semesta dan kehidupan dengan melahirkan berbagai disiplin ilmu, yang menopang kehidupan manusia di dunia.
Dari berbagai ilmu pengetahuan yang dihasilkan, penulis hanya akan membahas tentang angka yang dijadikan manusia sebagai alat ukur baik untuk sarana menghitung. Dari angka, manusia kemudian menciptakan nilai yang digunakan untuk mengukur besar kecil, panjang lebar, jauh dekat sampai dengan dasar penilaian terhadap sesuatu.
Ketika manusia mulai mengenal dan menggunakan angka sebagai suatu standar ukur, maka terciptalah nilai besar dan kecil dalam segala hal. Imbas dari kepandaian manusia dalam berhitung ternyata juga termasuk menghitung "Berkat" yang Allah SWT berikan kepada manusia.
Akibatnya, manusia menetapkan nilai, misalnya jika angka satu dibandingkan dengan 1000 adalah kecil dan seterusnya. Lebih parahnya, manusia juga mengukur berkat yang Allah SWT berikan menggunakan standar angka kecil dan besar tersebut.
Banyak diantara kita yang mengucapkan "Alhamdulillah" yang bobot imannya berbeda, manakala satu dengan lainnya menerima nilai berkat yang berbeda. Sebagai contoh, ketika A mendapat rejeki Rp.1000, ia kadang hanya berguman "kebetulan" hari ini "hanya" mendapat Rp.1000 atau hari ini kurang beruntung karena "hanya" mendapat Rp.1000,-. Akan berbeda ketika ia mendapat berkat Rp.100.000,-, pernyataan yang keluar dari mulutnya adalah lebih ringan dan spontan, yakni Alhamdullilah rejeki lagi bagus dan ungkapan lainnya, bahkan teriakannya akan lebih keras lagi , jika ia mendapatkan berkat yang lebih besar lagi.
Tulisan ini mengajak kita untuk merenung, begitukah sikap kita ketika Allah SWT menurunkan berkatnya kepada kita. Yang mengatakan bahwa Rp.1000,- itu kecil dan Rp.100.000,- itu besar apakah Allah SWT ? jawabannya bukan, itu hanya ungkapan kita sebagai manusia yang menggunakan tolok ukur duniawi yang kemudian diterapkan dalam kaitan hubungan dengan Allah SWT.
II. MENGHITUNG BERKAT DARI ALLAH SWT
Bisa dan beranikah kita menghitung berapa berkat yang Allah SWT telah berikan kepada kita sepanjang hidup. Mudah-mudahan kita dijauhi dari pemikiran seperti itu. Jika penulis membayangkan diri sendiri, rasanya sebutir pasir diantara hamparan pasir di padang gurun, masih terlalu besar, jika dibandingkan dengan berkat dan kasih sayang Allah SWT kepada penulis selama ini.
Ingat, kita tidak memiliki apapun yang bisa disombongkan di hadapan Allah SWT, bayangkan jasad yang terbujur di hadapan kita yang tak lama kemudian akan menyatu dengan tanah dan habis ditelan bumi, itulah sesungguhnya manusia. Tapi kita sering lupa, kita menganggap bahwa nilai Rp.1000,- itu seolah-olah bukan berasal dari Allah SWT, tapi hanya "Kebetulan", tapi jika nilai yang dianggap manusia dapat memuaskan nafsunya, maka itulah berkat dari Allah SWT.
Kita sering mengukur kasih sayang Allah SWT dari sisi jumlah atau kuantitas, tapi lupa bahwa Allah SWT, maha mengetahui, DIA mengetahui secara tepat apa kebutuhan kita pada saat DIA berikan berkat itu. Nafsu serakah yang telah menggelapkan mata hati kita, sehingga ketika berkat yang kita dapat tidak sesuai dengan nafsu itu, maka hal tersebut dianggap bukan adari Allah SWT.
Manusia cenderung ingin berlebihan, kita lupa bahwa kenikmatan hidup diperoleh ketika kita hidup berkecukupan. Doa saya memohon kepada Allah SWT agar senantiasa memberikan rejeki yang cukup bagi keluarga, karena saya sadar jika saya memiliki rejeki yang berlebihan, mungkin saya akan jauh dari Allah SWT, menjadi lupa diri dan sebagainya.
Kecukupan memiliki makna yang sangat mendalam dalam hubungan dengan Allah SWT, karena menjadikan diri kita hanya bergantung dan berharap kepada NYA, karena kita sadar semua yang kita miliki berasal dari NYA. Kita memiliki iman dan keyakinan, bahwa apa yang kita miliki, semua hanya titipan belaka, sehingga berkat sekecil apapun yang kita dapatkan lalu kita syukuri, semua akan menjadikan nikmat yang luar biasa. Sebaliknya apa yang kita dapatkan dan tidak pernah kita syukuri, itulah NAFSU.
Saya yakin, semua bermula dari hal yang kecil. Jika kita senantiasa ingat mensyukuri segalanya dari hal terkecil dalam hidup kita, insya Allah, Allah SWT akan menambahkan berkatnya. Begitu pula sebaliknya, jika kita menjadi manusia yang tidak pernah bersyukur, apa yang ada pada kita, akan diambil NYA.
III. MANUSIA WAJIB BERTANGGUNGJAWAB
Setiap manusia pasti akan dimintakan pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT. Begitu pula terhadap berkat yang Allah SWT berikan kepada kita selama hidup di dunia, akan dimintai pertanggungjawaban. Mereka yang diberkati luar biasa oleh Allah SWT dengan kekayaan yang berlimpah, akan dimintai pertanggungjawaban sesuai dengan apa yang sudah Allah SWT berikan kepadanya. Semakin kita diberkati, bukan hanya semakin besar nikmat yang kita rasakan tetapi semakin berat pula pertanggungjawaban yang dituntut dari kita.
Hal ini bukan menakut-nakuti agar manusia tidak boleh menjadi kaya. Boleh ! Tapi dengan syarat agar kita selalu ingat, bahwa apa yang Allah SWT berikan dengan segala kelebihannya itu, bukan hanya untuk diri sendiri. Kita diajar untuk beramal dan bersedekah, selalu ingat kepada kaum dhuafa dan anak yatim. Kita dituntut untuk menjadikan kekayaan kita sebagai selimut bagi kaum miskin, atap bagi kaum gelandangan dan makanan bagi orang-orang kelaparan.
Nikmati dan syukuri semua yang kita rasakan dan dapatkan karena Allah SWT, tanpa kecuali, tanpa mengukur besar atau kecil. Mulailah menerima apapun yang disediakan Allah SWT dalam hidup kita dengan penuh syukur, yakinlah bahwa Allah SWT memberikan kepada kita sesuai apa yang kita butuhkan, tanpa kekurangan tetapi senantiasa berkecukupan.
Semoga Allah SWT mendengar doa mereka yang tertawa akibat kelebihannya dan menangis karena kekurangannya dan keduanya sadar bahwa sesungguhnya Allah SWT sudah menggariskan takdir kepada setiap manusia, sesuai dengan kodrat NYA. Syukurilah itu semua. Amin,amin,amin ya robbal alamin
Sabtu, 31 Januari 2009
JIHAD
JIHAD
( Perjalanan Spritual Seorang Mualaf- bagian 3 – Pimpin Nagawan )
PENDAHULUAN
Sebagi umat Islam, kita seringkali mendengar istilah JIHAD, secara harufiah JIHAD, memiliki makna perang suci. Dalam kamus Indonesia-Inggris istilah JIHAD diberi pengertian HOLLY WAR. Kata suci (HOLLY) mengawali kata perang (WAR) yang mengikuti di belakangnya memberikan makna sangat dalam.
Suci atau kudus berarti tanpa noda dan dosa. Kita mamahami benar bahwa kita mengimani kesucian dan ketanpanodaan hanya milik ALLAH SWT semata, sehingga ketika kita berurusan dengan sesuatu yang suci, maka kita tidak dapat memungkiri bahwa hanya ALLAH SWT sebagai kiblat iman kita.
Kata Perang memberikan konotasi yang mengerikan, kejam, pembunuhan bahkan suatu kejadian atau situasi dimana segala hal yang tidak berprikemanusiaan dihalalkan, yakni dalam perang pilihannya hanya ada dua, musuh yang mati atau kita yang mati.
Persepsi definisi JIHAD pun semakin mengerikan manakala di waktu-waktu terakhir ini, kita sering mendengar dan menyaksikan tindakan anarkis atau teror yang menggunakan istilah JIHAD sebagai kata pembenarannya. Artinya di kalangan masyarakat umum berkembang suatu penafsiran dan pengertian yang keliru, bahwa JIHAD itu adalah sesuatu yang jahat, mengerikan, kejam dan sebagainya.
Belum lagi dibumbui dengan kata “perang” suci, semakin mengentalkan bahwa JIHAD adalah suatu “perang” yang dilegitimasi dengan kata “suci” sebagai legitimasi, sehingga genaplah persepsi JIHAD semakin suram dan kelam, apalagi pada akhirnya kemudian, moncong kebencian terhadap teroris atau anarkis diarahkan kepada kita umat Islam.
Sejujurnya, sebagai seorang mualaf, penulis merasa sedih dan terusik, manakala melihat seringnya tindakan anarkis sekelompok masyarakat dengan atribut ke Islam an, dalam menyelesaikan suatu perbedaan, lalu dengan ringan menyebut tindakan tersbut sebagai JIHAD. Saya berpendapat bahwa antara tindakan dan penyebutan sama sekali tidak memiliki hubungan kausalitas.
Anarkisme merupakan tindakan diluar kendali emosional dan keimanan, sedangkan JIHAD adalah proses “memerangi” kemungkaran dengan cara yang “SUCI”.
Berdasarkan hal tersebut itulah, maka dalam rangka menyambut Ramadhan tahun 2008 ini, penulis membagikan kegalauan tersebut kepada para pembaca, untuk kita maknai bulan suci ini dengan sesuatu pemahaman yang benar tentang JIHAD, sebagai seorang yang beriman kepada YANG MAHA SUCI, ALLAH SWT, sehingga Insya Allah, sebagai seorang Muslim, kita mampu menunjukkan dan menjadi saksi hidup bagi masyarakat khususnya umat beragama di luar Islam, bahwa agama Islam yang kita anut dan cintai ini adalah agama yang Rahmatan Lil Alamin.Amin Ya Robbal Allamin.
HIDUP ADALAH PEPERANGAN
Life is a battle (hidup adalah sebuah medan perang), ungkapan ini memiliki arti harafiah yang sangat dalam Mengapa kita tidak menyebutnya sebagai Life is a Paradise (hidup adalah firdaus/surga) yang terdengar lebih enak dan indah. Sesungguhnya jika kita merenungkan awal suatu proses kehidupan manusia, mulai dari lahir di dunia sampai dengan ajalnya, semua dilingkupi dengan berbagai kejadian yang penuh dengan resiko. Ketika dilahirkan di dunia, seorang ibu dengan meregang nyawa selama 9 bulan mengandung janin lalu melahirkan, berikutnya adalah proses dari sejak bayi sampai dengan tahapan balita yang selalu dihantui dengan beragam resiko penyakit dan sebagainya, lalu selanjutnya, bagaimana bayi mulai beradaptasi dalam proses belajar makan cair,lunak hingga keras serta jatuh bangun pada saat proses belajar berjalan.
Masuk tahapan remaja, manusia mulai dengan segala interaksi sosial dengan pergaulan di kalangan remaja yang sedang dalam proses mencari jati diri , lalu menginjak dewasa bekerja, berumah tangga sampai akhirnya masuk periode penuaan dengan segala resiko sakit, melemahnya organ tubuh dan sebagainya, bukankah semua itu resiko yang tidak pernah lepas dari kehidupan kita sebagai manusia ?
Jika kita sepaham dalam hal tersebut di atas, maka nyata bahwa ungkapan Life is Battle and Battle is Struggle atau perang adalah perjuangan adalah benar adanya. Perjuangan yang penuh dengan pengorbanan jiwa bahkan raga. Kehidupan di luar tubuh kita adalah medan perang yang wajib kita lalui detik demi detik. Sekali kita lengah maka bisa fatal akibatnya.
Secara garis besar ada dua dimensi dalam kehidupan kita. Dimensi pertama yakni diri kita sendiri yang meliputi organ tubuh yang melekat pada fisik kita serta berupa jiwa dan roh berupa iman dan emosi kita. Dimensi kedua adalah wilayah kehidupan di luar fisik,roh dan jiwa kita seperti keluarga, lingkungan dan masyarakat. Jika demikian halnya, berarti JIHAD memiliki 2 dimensi dalam kehidupan kta yang lebih bermakna untuk diperangi.
Lalu apa korelasinya antara pembahasan JIHAD dalam tulisan ini dengan semuanya ini. JIHAD dalam tulisan ini akan mengajak kita masuk dan beperang untuk mengalahkan musuh-musuh kita yang sesungguhnya di dalam kedua dimensi kehidupan kita selama ada di dunia ini, sehingga Insya Allah, kita mampu mengisi lembar-lembar kehidupan kita dengan JIHAD yang benar dan diridhoi oleh Allah SWT.Amin.
JIHAD
Pada pendahuluan di atas, penulis telah menguraikan secara terbatas, pengertian JIHAD dari dimensi definisi secara hurufiah. Pada bab ini penulis mengajak kita selaku Umat Muslim, merenungkan lebih jauh secara harafiah, arti dan makna JIHAD dalam khidupan kita sehari-hari, yang penulis yakin banyak terlewatkan.
Jangan hanya membayangkan dan memaknai JIHAD sebagi sesuatu besar seperti kisah PERANG kolosal dan menghadapi musuh di medan peperangan, dengan seragam yang gagah dan dipersenjatai dengan alat perang yang canggih, lalu kita membunuh satu-persatu musuh sehinga mereka semua terkapar dan kita bangga akan hal itu.
JIHAD atau HOLLY WAR memiliki pengertian yang jauh lebih besar dari pada yang saudara bayangkan dalam suatu perang kolosal, JIHAD itu tidak akan pernah berarti apa-apa jika kita sebagai manusia belum berhasil berjihad terhadap diri kita sendiri, mengalahkan ego, iri dengki, nafsu, emosi dan sebagainya, karena JIHAD atau HOLLY WAR mengandung unsur keimanan yang luhur, yakni melakukan perang karena ALLAH SWT.
Marilah sebelum kita masuk ke medan perang JIHAD yang saudara bayangkan, kita mulai berjihad terhadap hal-hal sederhana yang ada dalam diri dan lingkungan masyarakat kita sendiri.
Untuk itu penulis akan membagi kategori JIHAD dari dimensi diri kita sendiri dan JIHAD dari dimensi di luar diri kita.
1. JIHAD TERHADAP DIRI SENDIRI
Manusia lebih cenderung berorientasi mengurusi masalah orang lain ketimbang melakukan introspeksi diri sendiri.
Mempermasalahkan rumput tetangga seolah-olah lebih bermakna ketimbang merapikan rumput di halaman rumah sendiri yang tidak beraturan. Kebiasaan ini berlanjut dengan kehidupan sosial lainnya, seperti contohnya seorang ibu rumah tangga lebih senang membicarakan urusan rumah tangga orang lain, ketimbang bercermin terhadap kondisi rumah tangganya sendiri. Begitu seterusnya ke organisasi yang lebih besar dan lebih luas lagi. Ironisnya, manusia merasa telah berbuat sesuatu bagi keluarga dan atau lingkungan masyarakatnya dengan “mengurusi” hal-hal yang sebenarnya dia sendiri juga menjadi bagian dari “urusan” tersebut.
Dengan kata lain ketimpangan yang terjadi di dalam dirinya sendiri,keluarganya lingkungan masyarakat timbul akibat manusia itu sendiri, yang tidak pernah mau berintrospeksi diri, selalu merasa dirinya yang paling benar dan orang lain yang selalu salah.
Memerangi diri sendiri, berarti kita dipaksa untuk membuka dan menginventarisir semua kelemahan. Beranikah kita melakukan hal itu, bukankah jika kita diminta menyebutkan kelemahan-kelemahan kita, hampir selalu berdalih “sebaiknya yang menilai diri saya adalah orang lain, bukan diri saya sendiri” Benarkah uangkapan ini ? Jelas keliru, sikap seperti ini akan menjadi penghambat terbesar bagi manusia yang ingin maju, kenapa ? Manusia bisa maju karena dia tahu secara tepat kelemahan dalam dirinya dan dia mau belajar lebih banyak untuk meminimalisir kekurangannya itu. Peperangan yang terberat dalam hidup kita, bukan pada rumput tetangga tetapi ada justru ada di depan pelupuk mata kita sendiri, makanya ada peribahasa, “semut diseberang lautan terlihat jelas,gajah di pelupuk mata tidak terlihat”.
Apa saja JIHAD yang wajib kita lakukan terhadap diri sendiri, diantaranya mengikis Egois, Emosi, Ketidakdisiplinan, Iri dengki dan sebagainya. Untuk lebih jelasnya, penulis memberikan formula sederhana untuk pembelajaran. Masuklah ke kamar, kunci rapat-rapat, ambil sehelai kertas dan alat tulis lalu mulailah saudara menuliskan satu persatu hal-hal buruk yang ada dalam diri saudara dari yang kecil sampai yang besar, tidak perlu malu karena tidak ada orang lain yang tau selain diri saudara sendiri. Tulis sebanyak-banyaknya, hal-hal yang tanpa saudara sadari ditulis berulang-ulang, itu cenderung menunjukkan sifat buruk yang mendominasi sifat saudara selama ini.
Setelah selesai, baca dengan seksama satu demi satu, kalau saudara normal rohani dan jasmani, tidak akan mungkin saudara tidak mau mengakui semua kelemahan atau keburukan yang sudah saudara tulis pada kertas tersebut. Selesai membaca,lakukan sholat sunnah dimulai dengan memohon ampun ke pada ALLAH SWT lalu bersyukur atas pengungkapan tabir keburukan saudara dan memohon petunjuk untuk MAMPU merubahnya menjadi lebih baik, Amin. Mengapa penulis kata MAMPU dengan huruf besar, karena dengan berdoa saja tidak cukup, tetapi harus dibarengi dengan perbuatan nyata, sehingga kita perlu diberi ke MAMPU an oleh ALLAH SWT agar berani melakukan perubahan dengan ber JIHAD memerangi keburukan yang ada dalam diri kita.
2. JIHAD DALAM KELUARGA
Jam berapa saudara bangun setiap pagi, apakah saudara pernah membantu orang tua/suami/istri membenahi tempat tidur saudara sendiri, pernahkah saudara peduli pada saat bak air untuk mandi kosong dan saudara mengisi air bak itu, pernahkah saudara mematikan lampu yang masih menyala di pagi hari, pernahkah saudara membuatkan minuman atau sarapan pagi untuk orang tua/istri/suami/anak, pernahkah saudara membantu memandikan adik/anak saudara yang akan berangkat sekolah, pernahkah saudara membantu pekerjaan rumah tangga pada saat pembantu saudara mudik, pernahkah saudara membelikan pakaian untuk adik/kakak/orang tua pada saat saudara memiliki rejeki dan bukan hanya pada saat hari raya ?
Pertanyaan ini ini hanya sebagian kecil dari sekian banyak pertanyaan yang bisa muncul tergantung situasi dan kondisi rumah/rumah tangga yang saudara alami.
JIHAD dalam keluarga tidak selalu diartikan dengan mencukupkan meteri bagi keluarga, mengapa kita seringkali begitu rajin dan ringan tangan pada suatu saat diminta bantuan di rumah orang lain, padahal pekerjaan yang kita lakukan di rumah orang lain itu, tidak pernah sekalipun kita kerjakan di rumah sendiri. Jawabannya singkat, karena kita sering terbelenggu oleh PUJIAN dari orang lain daripada berbuat sesuatu di rumah sendiri yang tidak beraroma pujian.
Keikhlasan sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan ini, mengalahkan keinginan PUJIAN dari orang lain, hanya akan melahirkan pekerjaan yang sia-sia, karena jika suatu karya tanpa disertai PUJIAN sepertinya hambar.
Semua perbuatan kita yang baik, penulis yakini mengandung pahala. Tapi apakah karena semata-mata akan mendapat pahala, maka kita baru akan melakukan perbuatan yang baik, jawaban penulis adalah TIDAK, sekali lagi KEIKHLASAN.
Menyayangi keluarga, peduli terhadap orang tua, mendidik anak menjadi anak yang sholeh dan sholehah adalah satu diantara sekian banyak JIHAD kita dalam lingkungan keluarga yang kerap kita lupakan. Kita malah mencari hal-hal yang kita anggap besar di luar rumah untuk mendapat sekedar PUJIAN atau POPULARITAS dan membiarkan keluarga atau rumah tangga kita berantakan. Ukuran besar kecil JIHAD yang kita lakukan bukan pada besar kecilnya pekerjaan yang kita lakukan, tetapi apakah JIHAD besar yang kita lakukan sudah didahului dengan tuntasnya JIHAD kecil yang WAJIB kita lakukan.
Janganlah sampai terjadi, kita berperang membela agama kita dengan tindakan-tindakan anarkis dan dalil pembenaran agama, yang kita sebut sebagai JIHAD, padahal sholat pun kita tidak pernah, hal dilematis seperti ini banyak terjadi di sekitar kita bahkan pada diri kita sendiri, di dalam kehidupan sehari-hari.
Benahilah diri kita, JIHAD lah ke dalam, terhadap sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita, sebelum ber JIHAD keluar.
3. JIHAD DALAM MASYARAKAT
JIHAD terhadap diri sendiri dengan JIHAD dalam masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan karena pada hakekatnya, menusia adalah makhluk sosial yang perlu berinteraksi dengan makhluk sosial lainnya dalam suatu tatanan masyarakat.
JIHAD dalam masyarakat hanya akan terwujud, jika JIHAD terhadap sifat-sifat buruk dalam diri kita sudah mampu kita atasi. Bagaimana seorang berkeinginan menjadi pemimpin di masyarakat sedangkan memimpin keluarga yang kadang hanya terdiri dari 3 orang (1 istri dan 2 anak) saja tidak becus. Belajar menjadi pemimpin mulailah dari kelompok sosial terkecil, yakni keluarga.
JIHAD dalam masyarakat dimulai dari hal yang sederhana, seperti kerja bakti dilingkungan RT/RW, ronda bersama menjaga keamanan lingkungan, mengikuti atau mengadakan aksi sosial atau donor darah.
Banyak diantara kita yang sangat pe “MAAF” jika dihampiri anak yatim,kaum duafa atau pengemis dengan alasan “saya tidak mau memberikan ikannya, tetapi pancingnya” padahal pancing yang dia miliki sekarang saja, masih milik orang lain. Perbuatan menolong memiliki persepsi yang luas, marilah kita mulai dengan istilah “meringankan” daripada kita terus menerus menajdi pe’MAAF”. Bersedekah, beramal atau membantu meringankan beban hidup orang lain, tidak selalu harus mempermasalahkan ikan atau pancing, tapi jadikanlah diri kita menjadi orang yang memiliki kepedulian terhadap orang-orang yang senyatanya secara kasat mata memang susah hidupnya atau cacat fisiknya dibandingkan dengan kita.
Bagaimana orang yang memiliki sifat iri dengki mau berjihad di masyarakat, jika orang itu sendiri terus menerus melirik ke kiri dan kanan hanya karena takut tersaingi oleh orang lain. Membiasakan hati yang selalu penuh bersyukur membuat kita tidak akan pernah terusik oleh keberhasilan atau kesuksesan orang lain.
Belajar untuk selalu mensyukuri setiap hikmah dan nikmat sekecil apapun yang telah diberikan ALLAH SWT kepada kita masing-masing sesuai porsi yang telah ditentukan oleh NYA, membuat kita tidak pernah terpikir untuk ingin memiliki sesuatu yang bukan milik kita.
Jadi dengan kata lain, JIHAD terhadap diri sendiri merupakan bekal yang sangat menentukan pada saat kita hendak ber JIHAD di dalam masyarakat. Karena masyarakat adalah wadah berkumpulnya makhluk-makhluk sosial yang pada dasarnya memiliki sifat yang berbeda satu dengan lainnya, sehingga apabila masing-masing makhluk sosial tersebut telah berhasil memenangkan JIHAD terhadap sifat-sifat buruk yang ada di dalam dirinya, maka Insya Allah, masyarakat dimana manusia itu berada, juga menjadi baik.
KESIMPULAN
Setelah kita memahami JIHAD secara lebih mendalam, maka kata JIHAD tidak seseram atau menakutkan sebagaimana dipersepsikan masyarakat pada umumnya. Pahamilah JIHAD dari suatu yang mendasar dari hakekat kita sebagai makhluk ALLAH SWT yang diberi amanah untuk memperbaiki diri yang sejak awal memang sudah penuh dengan dosa. Jangan lagi kelemahan kita sebagai manusia berdosa ini, ditambah lagi dengan perbuatan yang justru semakin menjerumuskan kita pada kawah dosa yang semakin dalam.
Jadikan JIHAD sebagai sebuat alat dan sarana menuju perbaikan akhlak dan moral kita dengan memerangi sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita, karena itu yang lebih penting sebelum kita berbuat sesuatu yang kita anggap besar ternyata hanya sia-sia saja.
Hendaknya jika suatu hari kita dipanggil menghadap sang KHALIK, di setiap lembar dokumen kehidupan yang kita bawa ke hadapan NYA memuat, cerita-cerita indah, tentang bagaimana kita menjadikan JIHAD sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi diri kita dan orang lain.Amin Ya Rabbal Alamin.
( Perjalanan Spritual Seorang Mualaf- bagian 3 – Pimpin Nagawan )
PENDAHULUAN
Sebagi umat Islam, kita seringkali mendengar istilah JIHAD, secara harufiah JIHAD, memiliki makna perang suci. Dalam kamus Indonesia-Inggris istilah JIHAD diberi pengertian HOLLY WAR. Kata suci (HOLLY) mengawali kata perang (WAR) yang mengikuti di belakangnya memberikan makna sangat dalam.
Suci atau kudus berarti tanpa noda dan dosa. Kita mamahami benar bahwa kita mengimani kesucian dan ketanpanodaan hanya milik ALLAH SWT semata, sehingga ketika kita berurusan dengan sesuatu yang suci, maka kita tidak dapat memungkiri bahwa hanya ALLAH SWT sebagai kiblat iman kita.
Kata Perang memberikan konotasi yang mengerikan, kejam, pembunuhan bahkan suatu kejadian atau situasi dimana segala hal yang tidak berprikemanusiaan dihalalkan, yakni dalam perang pilihannya hanya ada dua, musuh yang mati atau kita yang mati.
Persepsi definisi JIHAD pun semakin mengerikan manakala di waktu-waktu terakhir ini, kita sering mendengar dan menyaksikan tindakan anarkis atau teror yang menggunakan istilah JIHAD sebagai kata pembenarannya. Artinya di kalangan masyarakat umum berkembang suatu penafsiran dan pengertian yang keliru, bahwa JIHAD itu adalah sesuatu yang jahat, mengerikan, kejam dan sebagainya.
Belum lagi dibumbui dengan kata “perang” suci, semakin mengentalkan bahwa JIHAD adalah suatu “perang” yang dilegitimasi dengan kata “suci” sebagai legitimasi, sehingga genaplah persepsi JIHAD semakin suram dan kelam, apalagi pada akhirnya kemudian, moncong kebencian terhadap teroris atau anarkis diarahkan kepada kita umat Islam.
Sejujurnya, sebagai seorang mualaf, penulis merasa sedih dan terusik, manakala melihat seringnya tindakan anarkis sekelompok masyarakat dengan atribut ke Islam an, dalam menyelesaikan suatu perbedaan, lalu dengan ringan menyebut tindakan tersbut sebagai JIHAD. Saya berpendapat bahwa antara tindakan dan penyebutan sama sekali tidak memiliki hubungan kausalitas.
Anarkisme merupakan tindakan diluar kendali emosional dan keimanan, sedangkan JIHAD adalah proses “memerangi” kemungkaran dengan cara yang “SUCI”.
Berdasarkan hal tersebut itulah, maka dalam rangka menyambut Ramadhan tahun 2008 ini, penulis membagikan kegalauan tersebut kepada para pembaca, untuk kita maknai bulan suci ini dengan sesuatu pemahaman yang benar tentang JIHAD, sebagai seorang yang beriman kepada YANG MAHA SUCI, ALLAH SWT, sehingga Insya Allah, sebagai seorang Muslim, kita mampu menunjukkan dan menjadi saksi hidup bagi masyarakat khususnya umat beragama di luar Islam, bahwa agama Islam yang kita anut dan cintai ini adalah agama yang Rahmatan Lil Alamin.Amin Ya Robbal Allamin.
HIDUP ADALAH PEPERANGAN
Life is a battle (hidup adalah sebuah medan perang), ungkapan ini memiliki arti harafiah yang sangat dalam Mengapa kita tidak menyebutnya sebagai Life is a Paradise (hidup adalah firdaus/surga) yang terdengar lebih enak dan indah. Sesungguhnya jika kita merenungkan awal suatu proses kehidupan manusia, mulai dari lahir di dunia sampai dengan ajalnya, semua dilingkupi dengan berbagai kejadian yang penuh dengan resiko. Ketika dilahirkan di dunia, seorang ibu dengan meregang nyawa selama 9 bulan mengandung janin lalu melahirkan, berikutnya adalah proses dari sejak bayi sampai dengan tahapan balita yang selalu dihantui dengan beragam resiko penyakit dan sebagainya, lalu selanjutnya, bagaimana bayi mulai beradaptasi dalam proses belajar makan cair,lunak hingga keras serta jatuh bangun pada saat proses belajar berjalan.
Masuk tahapan remaja, manusia mulai dengan segala interaksi sosial dengan pergaulan di kalangan remaja yang sedang dalam proses mencari jati diri , lalu menginjak dewasa bekerja, berumah tangga sampai akhirnya masuk periode penuaan dengan segala resiko sakit, melemahnya organ tubuh dan sebagainya, bukankah semua itu resiko yang tidak pernah lepas dari kehidupan kita sebagai manusia ?
Jika kita sepaham dalam hal tersebut di atas, maka nyata bahwa ungkapan Life is Battle and Battle is Struggle atau perang adalah perjuangan adalah benar adanya. Perjuangan yang penuh dengan pengorbanan jiwa bahkan raga. Kehidupan di luar tubuh kita adalah medan perang yang wajib kita lalui detik demi detik. Sekali kita lengah maka bisa fatal akibatnya.
Secara garis besar ada dua dimensi dalam kehidupan kita. Dimensi pertama yakni diri kita sendiri yang meliputi organ tubuh yang melekat pada fisik kita serta berupa jiwa dan roh berupa iman dan emosi kita. Dimensi kedua adalah wilayah kehidupan di luar fisik,roh dan jiwa kita seperti keluarga, lingkungan dan masyarakat. Jika demikian halnya, berarti JIHAD memiliki 2 dimensi dalam kehidupan kta yang lebih bermakna untuk diperangi.
Lalu apa korelasinya antara pembahasan JIHAD dalam tulisan ini dengan semuanya ini. JIHAD dalam tulisan ini akan mengajak kita masuk dan beperang untuk mengalahkan musuh-musuh kita yang sesungguhnya di dalam kedua dimensi kehidupan kita selama ada di dunia ini, sehingga Insya Allah, kita mampu mengisi lembar-lembar kehidupan kita dengan JIHAD yang benar dan diridhoi oleh Allah SWT.Amin.
JIHAD
Pada pendahuluan di atas, penulis telah menguraikan secara terbatas, pengertian JIHAD dari dimensi definisi secara hurufiah. Pada bab ini penulis mengajak kita selaku Umat Muslim, merenungkan lebih jauh secara harafiah, arti dan makna JIHAD dalam khidupan kita sehari-hari, yang penulis yakin banyak terlewatkan.
Jangan hanya membayangkan dan memaknai JIHAD sebagi sesuatu besar seperti kisah PERANG kolosal dan menghadapi musuh di medan peperangan, dengan seragam yang gagah dan dipersenjatai dengan alat perang yang canggih, lalu kita membunuh satu-persatu musuh sehinga mereka semua terkapar dan kita bangga akan hal itu.
JIHAD atau HOLLY WAR memiliki pengertian yang jauh lebih besar dari pada yang saudara bayangkan dalam suatu perang kolosal, JIHAD itu tidak akan pernah berarti apa-apa jika kita sebagai manusia belum berhasil berjihad terhadap diri kita sendiri, mengalahkan ego, iri dengki, nafsu, emosi dan sebagainya, karena JIHAD atau HOLLY WAR mengandung unsur keimanan yang luhur, yakni melakukan perang karena ALLAH SWT.
Marilah sebelum kita masuk ke medan perang JIHAD yang saudara bayangkan, kita mulai berjihad terhadap hal-hal sederhana yang ada dalam diri dan lingkungan masyarakat kita sendiri.
Untuk itu penulis akan membagi kategori JIHAD dari dimensi diri kita sendiri dan JIHAD dari dimensi di luar diri kita.
1. JIHAD TERHADAP DIRI SENDIRI
Manusia lebih cenderung berorientasi mengurusi masalah orang lain ketimbang melakukan introspeksi diri sendiri.
Mempermasalahkan rumput tetangga seolah-olah lebih bermakna ketimbang merapikan rumput di halaman rumah sendiri yang tidak beraturan. Kebiasaan ini berlanjut dengan kehidupan sosial lainnya, seperti contohnya seorang ibu rumah tangga lebih senang membicarakan urusan rumah tangga orang lain, ketimbang bercermin terhadap kondisi rumah tangganya sendiri. Begitu seterusnya ke organisasi yang lebih besar dan lebih luas lagi. Ironisnya, manusia merasa telah berbuat sesuatu bagi keluarga dan atau lingkungan masyarakatnya dengan “mengurusi” hal-hal yang sebenarnya dia sendiri juga menjadi bagian dari “urusan” tersebut.
Dengan kata lain ketimpangan yang terjadi di dalam dirinya sendiri,keluarganya lingkungan masyarakat timbul akibat manusia itu sendiri, yang tidak pernah mau berintrospeksi diri, selalu merasa dirinya yang paling benar dan orang lain yang selalu salah.
Memerangi diri sendiri, berarti kita dipaksa untuk membuka dan menginventarisir semua kelemahan. Beranikah kita melakukan hal itu, bukankah jika kita diminta menyebutkan kelemahan-kelemahan kita, hampir selalu berdalih “sebaiknya yang menilai diri saya adalah orang lain, bukan diri saya sendiri” Benarkah uangkapan ini ? Jelas keliru, sikap seperti ini akan menjadi penghambat terbesar bagi manusia yang ingin maju, kenapa ? Manusia bisa maju karena dia tahu secara tepat kelemahan dalam dirinya dan dia mau belajar lebih banyak untuk meminimalisir kekurangannya itu. Peperangan yang terberat dalam hidup kita, bukan pada rumput tetangga tetapi ada justru ada di depan pelupuk mata kita sendiri, makanya ada peribahasa, “semut diseberang lautan terlihat jelas,gajah di pelupuk mata tidak terlihat”.
Apa saja JIHAD yang wajib kita lakukan terhadap diri sendiri, diantaranya mengikis Egois, Emosi, Ketidakdisiplinan, Iri dengki dan sebagainya. Untuk lebih jelasnya, penulis memberikan formula sederhana untuk pembelajaran. Masuklah ke kamar, kunci rapat-rapat, ambil sehelai kertas dan alat tulis lalu mulailah saudara menuliskan satu persatu hal-hal buruk yang ada dalam diri saudara dari yang kecil sampai yang besar, tidak perlu malu karena tidak ada orang lain yang tau selain diri saudara sendiri. Tulis sebanyak-banyaknya, hal-hal yang tanpa saudara sadari ditulis berulang-ulang, itu cenderung menunjukkan sifat buruk yang mendominasi sifat saudara selama ini.
Setelah selesai, baca dengan seksama satu demi satu, kalau saudara normal rohani dan jasmani, tidak akan mungkin saudara tidak mau mengakui semua kelemahan atau keburukan yang sudah saudara tulis pada kertas tersebut. Selesai membaca,lakukan sholat sunnah dimulai dengan memohon ampun ke pada ALLAH SWT lalu bersyukur atas pengungkapan tabir keburukan saudara dan memohon petunjuk untuk MAMPU merubahnya menjadi lebih baik, Amin. Mengapa penulis kata MAMPU dengan huruf besar, karena dengan berdoa saja tidak cukup, tetapi harus dibarengi dengan perbuatan nyata, sehingga kita perlu diberi ke MAMPU an oleh ALLAH SWT agar berani melakukan perubahan dengan ber JIHAD memerangi keburukan yang ada dalam diri kita.
2. JIHAD DALAM KELUARGA
Jam berapa saudara bangun setiap pagi, apakah saudara pernah membantu orang tua/suami/istri membenahi tempat tidur saudara sendiri, pernahkah saudara peduli pada saat bak air untuk mandi kosong dan saudara mengisi air bak itu, pernahkah saudara mematikan lampu yang masih menyala di pagi hari, pernahkah saudara membuatkan minuman atau sarapan pagi untuk orang tua/istri/suami/anak, pernahkah saudara membantu memandikan adik/anak saudara yang akan berangkat sekolah, pernahkah saudara membantu pekerjaan rumah tangga pada saat pembantu saudara mudik, pernahkah saudara membelikan pakaian untuk adik/kakak/orang tua pada saat saudara memiliki rejeki dan bukan hanya pada saat hari raya ?
Pertanyaan ini ini hanya sebagian kecil dari sekian banyak pertanyaan yang bisa muncul tergantung situasi dan kondisi rumah/rumah tangga yang saudara alami.
JIHAD dalam keluarga tidak selalu diartikan dengan mencukupkan meteri bagi keluarga, mengapa kita seringkali begitu rajin dan ringan tangan pada suatu saat diminta bantuan di rumah orang lain, padahal pekerjaan yang kita lakukan di rumah orang lain itu, tidak pernah sekalipun kita kerjakan di rumah sendiri. Jawabannya singkat, karena kita sering terbelenggu oleh PUJIAN dari orang lain daripada berbuat sesuatu di rumah sendiri yang tidak beraroma pujian.
Keikhlasan sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan ini, mengalahkan keinginan PUJIAN dari orang lain, hanya akan melahirkan pekerjaan yang sia-sia, karena jika suatu karya tanpa disertai PUJIAN sepertinya hambar.
Semua perbuatan kita yang baik, penulis yakini mengandung pahala. Tapi apakah karena semata-mata akan mendapat pahala, maka kita baru akan melakukan perbuatan yang baik, jawaban penulis adalah TIDAK, sekali lagi KEIKHLASAN.
Menyayangi keluarga, peduli terhadap orang tua, mendidik anak menjadi anak yang sholeh dan sholehah adalah satu diantara sekian banyak JIHAD kita dalam lingkungan keluarga yang kerap kita lupakan. Kita malah mencari hal-hal yang kita anggap besar di luar rumah untuk mendapat sekedar PUJIAN atau POPULARITAS dan membiarkan keluarga atau rumah tangga kita berantakan. Ukuran besar kecil JIHAD yang kita lakukan bukan pada besar kecilnya pekerjaan yang kita lakukan, tetapi apakah JIHAD besar yang kita lakukan sudah didahului dengan tuntasnya JIHAD kecil yang WAJIB kita lakukan.
Janganlah sampai terjadi, kita berperang membela agama kita dengan tindakan-tindakan anarkis dan dalil pembenaran agama, yang kita sebut sebagai JIHAD, padahal sholat pun kita tidak pernah, hal dilematis seperti ini banyak terjadi di sekitar kita bahkan pada diri kita sendiri, di dalam kehidupan sehari-hari.
Benahilah diri kita, JIHAD lah ke dalam, terhadap sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita, sebelum ber JIHAD keluar.
3. JIHAD DALAM MASYARAKAT
JIHAD terhadap diri sendiri dengan JIHAD dalam masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan karena pada hakekatnya, menusia adalah makhluk sosial yang perlu berinteraksi dengan makhluk sosial lainnya dalam suatu tatanan masyarakat.
JIHAD dalam masyarakat hanya akan terwujud, jika JIHAD terhadap sifat-sifat buruk dalam diri kita sudah mampu kita atasi. Bagaimana seorang berkeinginan menjadi pemimpin di masyarakat sedangkan memimpin keluarga yang kadang hanya terdiri dari 3 orang (1 istri dan 2 anak) saja tidak becus. Belajar menjadi pemimpin mulailah dari kelompok sosial terkecil, yakni keluarga.
JIHAD dalam masyarakat dimulai dari hal yang sederhana, seperti kerja bakti dilingkungan RT/RW, ronda bersama menjaga keamanan lingkungan, mengikuti atau mengadakan aksi sosial atau donor darah.
Banyak diantara kita yang sangat pe “MAAF” jika dihampiri anak yatim,kaum duafa atau pengemis dengan alasan “saya tidak mau memberikan ikannya, tetapi pancingnya” padahal pancing yang dia miliki sekarang saja, masih milik orang lain. Perbuatan menolong memiliki persepsi yang luas, marilah kita mulai dengan istilah “meringankan” daripada kita terus menerus menajdi pe’MAAF”. Bersedekah, beramal atau membantu meringankan beban hidup orang lain, tidak selalu harus mempermasalahkan ikan atau pancing, tapi jadikanlah diri kita menjadi orang yang memiliki kepedulian terhadap orang-orang yang senyatanya secara kasat mata memang susah hidupnya atau cacat fisiknya dibandingkan dengan kita.
Bagaimana orang yang memiliki sifat iri dengki mau berjihad di masyarakat, jika orang itu sendiri terus menerus melirik ke kiri dan kanan hanya karena takut tersaingi oleh orang lain. Membiasakan hati yang selalu penuh bersyukur membuat kita tidak akan pernah terusik oleh keberhasilan atau kesuksesan orang lain.
Belajar untuk selalu mensyukuri setiap hikmah dan nikmat sekecil apapun yang telah diberikan ALLAH SWT kepada kita masing-masing sesuai porsi yang telah ditentukan oleh NYA, membuat kita tidak pernah terpikir untuk ingin memiliki sesuatu yang bukan milik kita.
Jadi dengan kata lain, JIHAD terhadap diri sendiri merupakan bekal yang sangat menentukan pada saat kita hendak ber JIHAD di dalam masyarakat. Karena masyarakat adalah wadah berkumpulnya makhluk-makhluk sosial yang pada dasarnya memiliki sifat yang berbeda satu dengan lainnya, sehingga apabila masing-masing makhluk sosial tersebut telah berhasil memenangkan JIHAD terhadap sifat-sifat buruk yang ada di dalam dirinya, maka Insya Allah, masyarakat dimana manusia itu berada, juga menjadi baik.
KESIMPULAN
Setelah kita memahami JIHAD secara lebih mendalam, maka kata JIHAD tidak seseram atau menakutkan sebagaimana dipersepsikan masyarakat pada umumnya. Pahamilah JIHAD dari suatu yang mendasar dari hakekat kita sebagai makhluk ALLAH SWT yang diberi amanah untuk memperbaiki diri yang sejak awal memang sudah penuh dengan dosa. Jangan lagi kelemahan kita sebagai manusia berdosa ini, ditambah lagi dengan perbuatan yang justru semakin menjerumuskan kita pada kawah dosa yang semakin dalam.
Jadikan JIHAD sebagai sebuat alat dan sarana menuju perbaikan akhlak dan moral kita dengan memerangi sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita, karena itu yang lebih penting sebelum kita berbuat sesuatu yang kita anggap besar ternyata hanya sia-sia saja.
Hendaknya jika suatu hari kita dipanggil menghadap sang KHALIK, di setiap lembar dokumen kehidupan yang kita bawa ke hadapan NYA memuat, cerita-cerita indah, tentang bagaimana kita menjadikan JIHAD sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi diri kita dan orang lain.Amin Ya Rabbal Alamin.
Selasa, 02 Desember 2008
BEKAL IMAN SAAT KRISIS
BERHARAP HANYA KEPADA-NYA
( Perjalanan Seorang Mualaf Bagian ke IV )
I. PENDAHULUAN
Sebagai seorang manusia kita seringkali memiliki sikap sombong, seolah-olah dengan segala kepintaran, kekuasaan, kekayaan dan ketampanan/kecantikan, manusia mampu berbuat apapun, tanpa mempedulikan lingkungannya, bahkan yang lebih parah lagi tidak lagi membutuhkan pertolongan Allah SWT. Namun di sisi lain kita juga sering melihat kenyataan, pada saat manusia mengalami suatu ketidakmampuan atau kebuntuan dalam suatu persoalan, baru lah dia ingat kepada Allah SWT. Jadi dengan kata lain, Allah SWT hanya dijadikan “ban serep” yang disimpan dalam-dalam, bahkan yang lebih tragis lupa “disimpan” dimana, sehingga pada saat dibutuhkan, dicari-cari tanpa arah yang jelas.
Manusiawikah sikap seperti itu, bisa ya bisa juga tidak. Seringkali melalui suatu peristiwa yang pahit, kita baru sadar bahwa apa yang selama ini ia lakukan, tidak pernah “dikonsultasikan” kepada Allah SWT, sehingga seringkalai ketika sadar, dia sudah berada di dalam lumpur yang pekat.
Jika kita menilik lebih jauh, apakah yang sebenarnya menyebabkan manusia bisa seperti itu. Jawabannya adalah karena kita sering mengukur persoalan dari sudut besar-kecil, berat-ringan dan seterusnya. Lalu karena sifat kesombongan yang memang sudah ada sejak dari awalnya, kita lalu memilah-milah, ini adalah tugas saya dan yang itu tugas Allah SWT, sehingga jika persoalan kita anggap ringan dan kecil, kita sering bersikap “tidak membutuhkan” Allah SWT.
Pada saat kita berhadapan pada suatu kebuntuan atau kebingungan, tiba-tiba kita sadar bahwa itu adalah porsi Allah SWT, karena sebagai manusia kita sudah tidak mampu lagi.
Tulisan ini, sebagaimana tulisan saya sebelumnya juga terjadi dalam kehidupan saya dan melalui doa dan iman, Allah membukakan mata hati saya bahwa sesungguhnya tidak ada yang kecil atau besar di mata Allah SWT, artinya semua yang kecil itu sebenarnya sama besarnya di hadapan Allah SWT, karena Allah SWT menilik hati dan iman kita, bukan besar-kecil, ringan-beratnya persoalan yang kita alami.
Semoga melalui tulisan ke empat ini, kita semakin disadarkan bahwa mulai dari hal yang kecil sampai dengan yang besar, semuanya penting di hadapan Allah SWT.
II. MANUSIA TEMPAT KHILAF
Intelektualitas dalam diri manusia adalah suatu karunia yang diberikan Cuma-Cuma oleh Allah SWT kepada manusia. Semua diberikan porsi dan kesempatan yang sama di dalam kehidupan ini. Tidak ada seorang yang lahir di dunia ini sudah begitu jeniusnya, sehingga tanpa melalui proses pendidikan, ia otomatis akan menjadi serang insinyur, dokter atau professor. Kepandaian yang dianugerahkan Allah SWT bukan berarti tanpa batas, norma masyarakat, agama, peraturan dan sebagainya merupakan sekat yang membatasi agar “intelektualitas” yang dimiliki seseorang tetap berjalan pada jalur yang benar.
Manusia seringkali lupa akan hal itu, untuk sebagian manusia, kepandaian, kejeniusan, kesuksesan dijadikan sebagai “tuhan” bagi dirinya, sehingga yang terjadi adalah jika tanpa pagar yang membatasi, akan melahirkan manusia-manusia yang tidak lagi mengakui keberadaan Allah SWT dalam hidupnya. Jangan coba-coba berbicara tentang Allah SWT kepada orang semacam ini, karena bagi mereka cerita kita hanya seperti khayalan atau dongeng sebelum tidur.
Keilmuan yang mereka kuasai telah menuntun mereka kepada pemahaman yang sangat dogmatis, sehingga kebenaran bagi mereka hanya ada pada ilmu pengetahuan semata, di luar itu semua hanya fiksi. Ilmu yang diserap secara dogmatis, akan membuat mereka tidak lagi membutuhkan Allah SWT, karena bagi mereka semua bisa dicari jawabannya hanya melalui ilmu pengetahuan.
Apakah pengertian ilmu hanya semata-mata pengetahuan yang kita peroleh melalui bangku pendidikan formal saja ? Tidak ! Ilmu meliputi semua pengetahuan yang diperoleh baik melalui proses pendidikan maupun otodidak (belajar sendiri).
Apakah begitu luar biasanya ilmu yang dikuasai seseorang, sehingga dia bisa bersikap tidak membutuhkan Allah SWT ? Ya, jika ilmu tidak disertai dengan IMAN KEPADA ALLAH SWT SECARA BENAR, akan mengakibatkan, mata hati manusia tertutup. Jika kita selalu bersikap memilah-milah persoalan kecil-besar, berat-ringan, maka pada saat itulah, manusi bisa terjerembab pada sikap takabur dan menganggap bahwa hanya dirinya saja yang hebat.
Saya memiliki pengalaman spiritual yang mungkin bagi orang lain merupakan kejadian yang kecil dan tidak berarti. Kejadiannya adalah pada suatu hari libur, saya mengajak keluarga berekreasi ke suatu pusat perbelanjaan besar di Jakarta. Ketika mobil masuk ke halaman parkir, ternyata seluruh halaman parkir sudah penuh sesak, sehingga tidak ada lagi ruang parkir yang tersisa. Setelah mencoba berputar beberapa kali, hasilnya tetap sia-sia. Lalu saya menghentikan mobil disalah satu sisi bersebelahan dengan area parkir dan saya mulai berdoa. Doa yang selalu saya panjatkan urutannya adalah Istigfar, memohon ampun atas semua dosa saya dan keluarga, bersyukur atas segala hal termasuk ketika saya sedang menghadapi masalah, menyampaikan niat/permohonan dan saya tutup dengan doa Tasbih. Selesai berdoa, saya tetap berdzikir dalam hati. Tak lama kemudian, putri sulung saya berkata “Pi, ayo jalan, ngapain berhenti disini”, dengan polos saya menjawab “Biarin aja, papi disuruh Allah menunggu disini”. Pembaca tahu apa yang terjadi setelah percakapan tersebut ? Mobil yang parkir tepat di sisi tempat saya berhenti, keluar dari area parkir, sehingga saya dapat memarkir mobil di tempat yang ditinggalkannya. Subhaanallaah.
Bagi saudara yang membaca tulisan ini, apa yang berkecamuk dalam hati Saudara setelah membaca cerita saya tersebut, saya yakin ada yang mengatakan “itu hanya suatu kebetulan” atau “luar biasa kuasa Allah SWT tak terbatas”. Saya adalah orang yang tidak percaya kepada “kebetulan” karena saya yakin dengan iman, semua yang terjadi dalam kehidupan saya, tidak terlepas dari campur tangan Allah SWT dan yang kedua adalah saya tidak percaya pada “kebetulan”, karena saya berdoa dan saya harus yakin bahwa kejadian itu merupakan jawaban Allah SWT atas doa saya.
Yang lebih berkesan atas kejadian itu adalah, saya diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk mengajarkan kepada anak saya dengan berkata “Anak-anak, kalau kita yakin dan beriman, kita akan selalu diperlihatkan, bahwa dalam persoalan sekecil apapun, Allah SWT memperhatikan dan menyayangi kita” Subhaanallaah.
Saya bersyukur kepada Allah SWT, bahwa saya memperoleh pelajaran yang sangat berarti dalam hidup saya, betapa dalam persoalan yang mungkin bagi sebagian manusia adalah perkara kecil, justru Allah SWT tunjukkan kepada saya, betapa Allah SWT selalu memperhatikan mulai dari hal kecil dalam kehidupan saya.
Manusia adalah tempat khilaf, artinya diri kita tidak pernah luput dari kelupaan, kealpaan, kekeliruan, kesalahan baik disengaja maupun tidak, sehingga jika kita menyadari hakekat bahwa semua kelemahan itu adalah sesuatu yang tidak bisa lepas dari diri kita, maka keberadaan Allah SWT sebagai panutan hidup bagi kita, menjadi begitu penting untuk meminimalisir dan bahkan mengeliminir semua kelemahan yang kita miliki.
Ilmu adalah penting, karena dengan ilmu itulah kita menjadi seorang yang berintelektual dan mampu mengenal Allah SWT secara utuh, akan tetapi kita dilarang menjadikan ilmu sebagai “tuhan” dalam kehidupan kita, karena itu sama saja dengan menyekutukan Allah SWT. Dengan perkataan lain, jadikan lah ilmu sebagai alat atau sarana untuk kita lebih mendekatkan diri kita kepada Allah SWT dengan senantiasa bersyukur atas ilmu yang kita miliki. Keris adalah benda yang dianggap manusia sebagai sesuatu yang memiliki kekuatan magis, tapi kita harus ingat bahwa tidak ada bedanya antara keris dengan sendok atau garpu, motor, mobil atau apapun. Itu hanya sekedar alat atau sarana yang dibuat manusia, yang diberikan talenta atau bakat oleh Allah SWT untuk menciptakan benda-benda itu agar bisa digunakan dalam kehidupan manusia. Yang kita kagumi adalah, begitu besar kuasa Allah SWT, memberikan kemampuan kepada seorang empu atau pencipta alat-alat tersebut, sehingga mereka mampu menciptakan keris yang begitu indah atau benda-benda lainnya, tidak lebih dari itu. Jika akhirnya keris atau benda-benda itu diagung-agungkan, diperlakukan atau bahkan disembah melebihi ibadah kita kepada Allah SWT, maka kita sudah masuk kepada perbuatan musyrik.
III. MANUSIA TEMPAT KESOMBONGAN
Semua manusia memiliki ego, besar kecilnya tergantung sejauh mana latar belakang pendidikan, pergaulan, luasnya wawasan berpikir dan tentunya KEIMANAN seseorang.
Jika kekhilafan seseorang lebih cenderung terbentuk oleh dorongan nafsu dan emosi yang berasal dari dalam diri, maka kesombongan cenderung lahir dari pengaruh eksternal. Pada umumnya kesombongan timbul karena manusia “merasa” memiliki kelebihan dibandingkan dengan orang di sekitarnya, apakah itu kekayaan, kepandaian, keturunan (misalnya anggota keluarga pejabat/raja dsb) atau kecantikan/ketampanan dan lainnya.
Ketika kesombongan itu sudah merasuk dalam sifat dan sikap hidup seseorang, maka muncul ego negatif yang mengarahkan manusia pada individualis centris, artinya rasa ke-aku-an manusia tersebut, berubah menjadi “aku manusia paling…” dibanding kelompok manusia lainnya. Apakah manusia itu berubah menjadi atheis (tidak memiliki atau mempercayai adanya Tuhan), belum tentu ! Banyak orang-orang disekitar kita yang mengidap “penyakit” seperti ini. Dari lahiriah, kita akan terkecoh dengan segala prilaku yang menampakkan “ke-saleh-an”nya, tetapi kenyataan yang sebenarnya adalah, sebenarnya orang tersebut menganggap hubungannya dengan Tuhan adalah sesuatu yang bersifat formal belaka, artinya karena lingkungan sosial dimana ia berada, semua beragama, maka selayaknyalah dia pun harus beragama.
Lalu bagimana dengan prilaku IMAN orang tersebut, tentunya KOSONG, karena semua yang dilakukannya hanya bersifat “kosmetik” belaka. Agama dijadikan “alat kecantikan” untuk menutupi ego negatif dalam dirinya. Ciri umum yang seringkali bisa kita lihat dari orang-orang semacam itu adalah, dalam setiap ibadah yang ia lakukan, ia ingin semua orang tahu atau dipublikasikan, senang dipuji jika melakukan ibadah dan sebagainya.
Pada umumnya, akibat kesombongan itu, manusia cenderung menempatkan Allah SWT hanya sebagai “ban serep”, yakni dibutuhkan manakala dia tidak lagi mampu mengatasi persoalan yang dihadapinya dengan kekuatan sendiri. Contoh yang sangat nyata dalam hidup kita akhir-akhir ini adalah koruptor yang sering mengumbar pernyataan yang bernada “menjual” nama Tuhan atau Allah SWT untuk pembenaran atas perbuatannya. Pertanyaannya adalah, apakah pada saat orang tersebut melakukan korupsi, tahukah atau ingatkah dia, bahwa apa yang dilakukannya adalah perbuatan dosa ? Kesombongan akibat kekuasaan dan jabatan telah membutakan hati nurani manusia, sehingga mengalahkan segalanya termasuk keberadaan ajaran agama.
Ilmu tanpa Iman akan berubah menjadi srigala yang ganas. Banyak ilmuwan yang karena kejeniusannya lalu menyepelekan kuasa Allah SWT. Dengan segala kemampuannya, dia mencoba menaklukkan definisi tentang alam semesta dengan teori ilmiah dengan mengenyampingkan kebesaran Allah SWT. Manusia seperti ini, tidak menyadari bahwa sebenarnya kemampuan yang dimilikinya tidak lebih dari segumpal daging yang bernama OTAK, jika dalam satu detik saja, Allah SWT menggeser salah satu syaraf otak tersebut, maka saat itu juga dia akan linglung, bahkan mungkin menjadi lumpuh dan tidak berguna lagi.
Betapa banyak manusia yang mati dengan sia-sia karena kesombongan. Akankah kita membiarkan diri kita diperbudak dengan kesombongan itu dan menempatkan Allah SWT hanya sebagai “ ban serep” di dalam hidup kita ?
IV. MANUSIA TEMPAT TAKABUR
Kita sering terjebak dalam pemikiran tentang pembagian tugas antara manusia dengan Allah SWT. Merasa dirinya mampu, lalu manusia menyusun pembagian tugas yakni kalau persoalan seperti ini adalah urusan saya dan kalau seperti itu adalah urusan Allah SWT. Akibatnya kita tidak pernah mensyukuri nikmat atau hikmah yang kecil-kecil, karena menganggap karena itu adalah hasil dari kemampuannya atau terjadi secara “kebetulan”.
Saya punya banyak pengalaman spiritual yang akan saya ceritakan kepada pembaca, betapa nikmatnya saya pribadi merasakan akan kasih sayang Allah SWT dalam hidup saya.
Pada bulan Ramadhan tahun 2008, sebagaimana aktivitas saya selama bulan suci tersebut, yaitu menyampaikan tausiah Ramadhan ke seluruh cabang-cabang perusahaan di daerah yang saya bawahi. Ketika itu, saya memberikan tausiah di cabang Serang. Waktu menunjukkan sekitar pukul 15.30 berarti kira-kira 2 jam menjelang berbuka puasa. Tiba-tiba timbul keinginan saya untuk minta tolong kepada istri saya untuk membelikan gulai ikan kakap untuk saur esok hari, tapi niat itu saya urungkan karena berpikir kasihan pada istri yang berarti harus keluar rumah hanya sengaja membelikan makanan keinginan saya tersebut. Pikiran dan keinginan tersebut tidak pernah saya ceritakan kepada siapapun. Setelah selesai memberikan tausiah dan berbuka puasa bersama kepala cabang dan karyawan setempat, saya pamit pulang.
Ketika saya diantar menuju mobil, kepala cabang tersebut mengatakan, ada oleh-oleh gulai kepala ikan kakap untuk saya dan sudah dititipkan kepada supir saya. Saat itu saya hanya bisa menangis, pembaca bisa membayangkan, saya tidak berdoa untuk minta gulai kepala ikan kakap kepada Allah SWT, saya hanya punya keinginan yang itupun tidak pernah saya ungkapkan kepada siapapun, tapi Maha Penyayang Allah SWT maha mengetahui segala keinginan hamba NYA. Sekali lagi saya tegaskan, saya tidak percaya kepada “kebetulan”, saya yakini itulah kasih sayang Allah SWT kepada saya dan bahkan kepada pembaca sekalian. Apakah karena saya orang baik, suci, rajin ibadah dan sebagainya. Jawaban saya BUKAN, itu hanya semata-mata kemurahan NYA saja. Subhaanallaah.
Cerita ini membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang kasih sayang Allah SWT kepada manusia, tanpa batas apakah besar-kecil, berat-ringan dan seterusnya.
Perbedaan cerita pengalaman spiritual saya yang pertama dengan yang kedua adalah pada pengalaman yang pertama saya berdoa dengan iman dan pasrah kepada Allah SWT dan Allah SWT menjawab doa saya, sedangkan pengalaman kedua adalah Allah SWT menunjukkan bahwa DIA maha mengetahui apa yang dipikirkan dan diinginkan hamba NYA, walaupun belum atau tidak diungkapkan melalui doa, artinya tidak ada yang tersembunyi dalam diri atau hati kita di hadapan Allah SWT.
Dari dua pengalaman sederhana atau mungkin “kecil” bagi orang lain, hikmah yang paling dalam adalah apalagi yang bisa disombongkan oleh kita sebagai manusia. Semua telanjang di hadapan Allah SWT, masih adakah manusia yang berani takabur di hadapan NYA. Manusia ibarat sebutir pasir di padang gurun, apalah artinya. Semut yang kecil pun disayangi Allah SWT, mereka diberi makan dan tempat tinggal yang terlindung di bawah tanah. Apalagi kita manusia yang dikatakan sebagai makhluk yang paling mulia di hadapan NYA, masihkah kita berani mengecilkan bahkan menyepelekan keberadaan Allah SWT dalam hidup kita, bahkan menjadikan NYA hanya sebagai “ban serep” ?
V. KUASA TANPA BATAS
Ilmu Allah SWT tak bedanya dengan angin, falsafah ini saya dapatkan dari seorang sahabat sekaligus guru spiritual saya. Apa maknanya ? Kita bisa merasakan angin tapi kita tidak pernah bisa melihat dan memegangnya. Falsafah ini sangat luar biasa dalam, karena kita sebagai manusia sebenarnya memiliki keterbatasan dalam berhubungan dengan Allah SWT, tetapi bagi manusia yang hidup dengan IMAN, ia diberi kemampuan untuk mengetahui dan merasakan keberadaan Allah SWT melalui MATA IMAN nya. (Baca uraian tentang hal ini dalam tulisan saya BERDOA DENGAN IMAN).
Kali ini saya akan ceritakan bagaimana saya mencoba mempraktekkan IMAN melalui DOA. Pada saat saya bertanya pada guru saya, apakah saya bisa memindahkan hujan yang akan turun di suatu tempat dengan doa, dia hanya mengatakan bahwa saya bisa ! Asalkan antara NIAT dan IMAN harus berada salam satu garis, insya Allah doa itu akan terkabul.
Jika kita gambarkan sebuah pistol atau senapan, seseorang yang akan menembak, pasti akan mengukur atau menempatkan pisir di ujung senapan dengan celah pisir di belakang pada saat membidik sasaran, jika kedua pisir sudah segaris, maka ketika senapan/pistol ditembakkan, maka akan tepat mengenai sasaran yang dituju. Begitu pula di dalam berdoa, pisir pada ujung laras menggambarkan NIAT dan pisir belakang melukiskan IMAN, jika antara NIAT dan IMAN sudah segaris, insya Allah doa kita dikabulkan oleh Allah SWT berdasarkan rencana Allah SWT. Hal ini penting untuk dipahami, karena manusia cenderung berdoa dan berharap bahwa jawaban dari Allah SWT akan persis sebagaimana skenario yang dia bayangkan atau kehendaki. Tetapi kenyataannya, jawaban Allah SWT berbeda, karena kita harus pahami RENCANA MANUSIA belum tentu RENCANA ALLAH SWT.
Pada suatu sore, cuaca di kota Depok gelap gulita oleh awan hitam dan sebentar lagi akan turun hujan lebat, karena saya mendapat informasi dari beberapa yang hadir di acara tersebut bahwa di luar sekitar kota Depok sudah turun hujan lebat sekali. Saya hanya berpikir, kalau benar hujan lebat akan turun di tempat ini, maka acara akan berantakan.
Mulailah saya berdoa, doa yang sederhana sebagaimana hidayah yang saya dapatkan tentang BERDOA DENGAN IMAN. Saya awali doa dengan mengucapkan Istigfar, memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan yang ada dalam diri saya dilanjutkan saya bersyukur karena ijin Allah SWT saya bisa hadir di acara tersebut, kemudian saya sampaikan niat saya sebagai berikut : “ Ya Allah ya Tuhanku, niat hamba MU memohon ijin dan kuasa MU agar hujan yang akan turun di lokasi ini bisa dipindahkan ke tempat lain yang lebih membutuhkan, namun jangan sampai ada makhluk hidup lain yang menjadi korban karena doa hamba MU ini, hanya kepada MU hamba pasrahkan niat dan doa ini. Amin “. Setelah itu saya membaca Syahadat, Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq dan An Nash dan ditutup dengan doa Tasbih, selesai. Setelah itu saya lanjutkan dengan berdzikir dalam hati.
Tahukah pembaca, apa yang terjadi selanjutnya. Awan hitam yang semula begitu pekat dan menutupi langit, perlahan-lahan bergeser, berpindah dan dalam waktu yang singkat, di lokasi acara tersebut terang benderang, tidak ada satu titik hujan pun yang turun. Subhaanallaah.
Permohonan seperti ini berkali-kali saya praktekkan dan alhamdullilah dikabulkan.
Hebatkah saya ? TIDAK ! itu hanya seijin dari Allah SWT semata. Kenapa saya katakan seperti itu, karena pada saat saya berdoa, saya menyampaikan perhohonan IJIN dan KUASA dari Allah SWT atas doa itu. Hakikatnya, jika kita meminta ijin berarti kita sudah harus siap menerima segala konsekuensi jawabannya, yakni kemungkinan DIIJINKAN atau DITOLAK, berarti sejak awal dalam doa tersebut sudah terkandung kepasrahan saya kepada Allah SWT. Soal dikabulkan atau tidak permohonan itu, hanya Allah SWT yang tahu jawabannya.
Apa esensi dari pengalaman spiritual ini, dengan segala keterbatasan yang ada pada diri manusia, Allah SWT tetap memberikan kemampuan kepada manusia untuk mengenal rahasia Allah melalui IMAN sekali lagi IMAN, tidak ada yang lain.
Apakah pengalaman spiritual yang saya alami hanya berlaku pada mencegah turunnya hujan. Tentu tidak, Allah SWT memberikan ijin kepada saya untuk mengalami pengalaman spiritual itu, untuk menunjukkan bahwa Allah SWT memiliki kuasa tanpa batas di dalam kehidupan kita. Sejak memperoleh pengalaman seperti itu, saya juga mencoba mengobati dengan cara seperti itu, yakni dengan IMAN dan KEPASRAHAN, karena saya tahu, saya hanya hamba NYA yang memohon ijin dan kuasa NYA, selebihnya adalah KUASA ALLAH SWT yang bekerja. Subhaanallaah.
VI. OBAT DALAM KEHIDUPAN
Jaman terus berubah, kehidupan manusia semakin kompleks dan sulit. Bencana terus mengintai, kejahatan semakin merajalela dan tuntutan kebutuhan ekonomi semakin sulit. Manusia panik mencari sesuatu yang tidak ada, dukun, paranormal, dan peramal mendadak laris. Kita terbelenggu oleh ketakutan sendiri, kuatir tidak mampu menghadapi masa depan, takut tidak dapat menghidupi anak dan istri. Timbullah gejala kejiwaan seseorang yang frustrasi dan mengambil jalan pintas dengan bunuh diri dan sebagainya.
Fenomena ini akan semakin menggila di akhir jaman, manusia kehilangan kendali, dikejar nafsunya sendiri dan seterusnya sampai akhirnya mati dengan sia-sia. Keputusasaan itu menunjukkan gejala manusia sudah begitu jauhnya dari Tuhan, Allah SWT.
Cerita tentang pengalaman spiritual yang saya alami di atas sebenarnya telah memberikan kita kesaksian yang hidup bahwa di dunia ini manusia tidak sendiri. Ada dzat yang dinamakan Allah SWT, Tuhan yang kita panggil dengan Allahu Akhbar, Tuhan Yang Maha Besar yang setia selama 24 jam menemani, menyayangi dan melindungi kita, tanpa henti dan gratis.
Sakit penyakit, bencana alam, kebangkrutan usaha, kehancuran rumah tangga, keputusasaan, kesedihan, krisis ekonomi global dan apapun namanya yang kita alami. Apakah DIANTARA SEMUA ITU ADA YANG LEBIH BESAR DARI KUASA ALLAH SWT ??? Jika jawabannya tidak, lalu apa yang kita kuatirkan sehingga kita harus menyekutukan Allah SWT dengan mendatangi dan meminta pertolongan kepada dukun dan sebagainya.
Saya akan bercerita tentang pengalaman spiritual saya ketika saya sakit keras pada tahun 2002 dan hampir tak terselamatkan. Ketika itu saya merasakan sesak nafas dan demam tinggi yang tidak bisa surut selama hampir 1 bulan dan sudah dirawat di 2 rumah sakit serta ditangani oleh dokter-dokter spesialis di bidangnya, tanpa ada satu hasil apapun bahkan semua diagnose terhadap sakit saya keliru, ada yang mengatakan saya sakit ginjal, paru-paru, flu berat dan sebagainya. Beberapa kerabat dan rekan agar saya berobat ke luar negeri, tapi karena pertimbangan keuangan hal itu mustahil saya lakukan. Kondisi semakin parah karena selain sesak nafas, demam tinggi, saya pun sudah mulai kehilangan memori ingatan. Dalam hitungan menit ketika saya selesai melayani tamu yang menjenguk, seketika itu saya lupa siapa yang datang menjenguk, padahal itu baru terjadi beberapa menit yang lalu. Entah berapa biaya yang sudah dikeluarkan untuk upaya pengobatan itu. Segala upaya sudah dilakukan, sampai satu saat, salah satu teman dekat saya, membawa saya kepada seorang paranormal (waktu itu saya belum mendapat hidayah tentang BERDOA DENGAN IMAN), jadi kemanapun saya dibawa, asal untuk kesembuhan, saya jalani. Paranormal itu seorang wanita separuh baya. Setelah berdoa sejenak, paranormal itu hanya berkata singkat “Orang ini memang diguna-guna orang tetapi dia sendiri juga ada sakit, tapi sudahlah tidak usah kuatir, orang ini ada dewa penolongnya (dalam istilah Cina, disebutkan bahwa saya punya Qui Jin artinya Dewa Penolong). Hanya itu yang diucapkannya. Sekembali kerumah saya bingung siapa dewa penolong yang dimaksud, karena sakit yang semakin parah, saya tidak mengingat lagi ucapan paranormal itu.
Selang dua hari setelah ucapan paranormal itu, tiba-tiba saya dipanggil oleh pimpinan perusahaan tempat saya bekerja dan beliau hanya mengatakan “besok kamu buat passport dan lusa ikut saya ke Singapura untuk berobat”. Begitu parahnya sakit saya, sampai-sampai selama perjalanan dari rumah sampai di airport Changi di Singapura, mata saya terbuka, tapi tidak ada satupun peristiwa yang saya ingat. Begitu pula dokter di Singapura mengatakan bahwa saya ini sudah gila, bagaimana mungkin demam setinggi 40 derajat dibiarkan sebulan dan baru dibawa setelah kritis seperti itu, hasil diagnose, diketahui bahwa penyebab demam tersebut adalah klep jantung yang infeksi dan termakan virus, pernyataan dokter jika saya terlambat 1 hari lagi, maka hanya ada 2 kemungkinan, yakni stroke (lumpuh total) atau meninggal. Yang istimewa dari kejadian ini adalah karena selama ini orang mengenal pimpinan saya sebagai figur yang keras, sangat tegas dan workoholic. Karena pertolongan Allah SWT melalui pimpinan saya tersebut, nyawa saya terselamatkan. Subhaanallaah.
Apa hikmah dari kisah sakit saya ini, pertolongan Allah SWT bisa datang melalui siapapun bahkan dari orang yang tidak pernah kita duga sebelumnya artinya Allah SWT memiliki kuasa tanpa batas di dalam menjawab doa kita dan tidak akan pernah dapat kita terka jalan NYA.
Jawaban yang Allah SWT berikan kepada saya dengan pembaca mungkin berbeda walaupun persoalan yang dihadapi serupa, jalan yang diberikan tidak selalu sama, tetapi akhir dari jawaban itu pasti sama, yakni kita merasakan kuasa Allah SWT yang luar biasa. Suatu pengalaman spiritual yang takkan terlupakan selama hidup.
Situasi dan kondisi lingkungan, masyarakat, bangsa, Negara, ekonomi, beban hidup kita semakin berat, akankah kita terus mencari kambing hitam untuk sekedar pembenaran atau saling menyalahkan hanya ingin merasa menang.
Mulailah dengan sesuatu yang benar, mengajak keluarga, istri dan anak-anak kita untuk bersimpuh dan sujud di hadapan Allah SWT, ber-igstifar memohon ampun atas segala dosa kesalahan kita dan keluarga serta para pemimpin bangsa kita, bersyukurlah bahwa Allah SWT masih memberikan kepada kita keadaan yang jauh lebih baik dibandingkan orang lain yang lebih menderita di sekitar kita, sampaikan niat dan permohonan berupa petunjuk, hidayah dan jalan keluar terbaik yang jika dikabulkan, akan lebih mendekatkan kita kepada Allah SWT dan Rasullullah serta akhirnya pasrahkanlah semua doa dan permohonan itu hanya pada kuasa Allah SWT.
Saya berkeyakinan, tidak ada doa yang tidak dijawab, karena waktunya adalah waktu Allah SWT. Hanya Allah SWT yang tahu kapan akan menjawab doa kita. Jangan kalah sebelum berperang, belum mencoba, kita sudah mengatakan susah, karena kita tahu doa seperti apa yang diterima Allah SWT. Memang kita tidak akan pernah tahu hal itu, tapi ingat kita diberi MATA IMAN oleh Allah SWT, untuk mengenal bahwa Allah SWT itu hidup dan mendengarkan doa kita. WAKTU atau KAPAN dan JAWABAN seperti apa yang diberikan Allah SWT kepada kita, hanya DIA yang mengetahuinya, maka kita dituntut PASRAH dan TAWAKAL.
VII. PENUTUP
Tulisan ini mengajak kita untuk kembali kepada fitrah manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia boleh berusaha namun pada akhirnya Tuhan jualah yang memutuskan.
Kekuatiran, ketakutan dan sebagainya adalah sesuatu yang manusiawi terjadi dalam kehidupan kita, namun yang jangan pernah dilupakan, bahwa kita memiliki Tuhan yang kita kenal dengan Allah SWT, Allahu Akhbar, yang terus menerus mengawasi dan menolong kita dan tidak pernah jauh dari kita.
Di dalam doa, DIA bersama kita. Didalam kekuatiran, Allah SWT selalu memberikan kita kekuatan. Didalam ketakutan, Allah SWT adalah perisai kita. Didalam kesedihan, DIA selalu membelai dan menghibur kita. Didalam kebuntuan, Allah SWT menerangi dan membukakan jalan untuk kita. Didalam kedinginan, DIA akan memeluk dan menghangatkan kita. Bahkan dalam kematian kita pun, DIA menantikan dan menyambut kita dengan senyum. Subhaanallaah. Masihkan ada yang lebih besar dari KUASA NYA. Subhaanallaah.
Sekali lagi ! Ingatlah selalu pesan ini dan jangan pernah kita lupakan. “Persoalan sebesar apapun yang kita hadapi dalam hidup ini, TIDAK ADA YANG LEBIH BESAR DARI KUASA ALLAH SWT” karena :
“Innama amruhuu idzaa araada syai-an yaquulalahuu kun fayakuun” (Sesungguhnya keadaan–Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya ‘Jadilah !’ maka terjadilah ia)
Bogor, 18 November 2008
Pimpin Nagawan
( Perjalanan Seorang Mualaf Bagian ke IV )
I. PENDAHULUAN
Sebagai seorang manusia kita seringkali memiliki sikap sombong, seolah-olah dengan segala kepintaran, kekuasaan, kekayaan dan ketampanan/kecantikan, manusia mampu berbuat apapun, tanpa mempedulikan lingkungannya, bahkan yang lebih parah lagi tidak lagi membutuhkan pertolongan Allah SWT. Namun di sisi lain kita juga sering melihat kenyataan, pada saat manusia mengalami suatu ketidakmampuan atau kebuntuan dalam suatu persoalan, baru lah dia ingat kepada Allah SWT. Jadi dengan kata lain, Allah SWT hanya dijadikan “ban serep” yang disimpan dalam-dalam, bahkan yang lebih tragis lupa “disimpan” dimana, sehingga pada saat dibutuhkan, dicari-cari tanpa arah yang jelas.
Manusiawikah sikap seperti itu, bisa ya bisa juga tidak. Seringkali melalui suatu peristiwa yang pahit, kita baru sadar bahwa apa yang selama ini ia lakukan, tidak pernah “dikonsultasikan” kepada Allah SWT, sehingga seringkalai ketika sadar, dia sudah berada di dalam lumpur yang pekat.
Jika kita menilik lebih jauh, apakah yang sebenarnya menyebabkan manusia bisa seperti itu. Jawabannya adalah karena kita sering mengukur persoalan dari sudut besar-kecil, berat-ringan dan seterusnya. Lalu karena sifat kesombongan yang memang sudah ada sejak dari awalnya, kita lalu memilah-milah, ini adalah tugas saya dan yang itu tugas Allah SWT, sehingga jika persoalan kita anggap ringan dan kecil, kita sering bersikap “tidak membutuhkan” Allah SWT.
Pada saat kita berhadapan pada suatu kebuntuan atau kebingungan, tiba-tiba kita sadar bahwa itu adalah porsi Allah SWT, karena sebagai manusia kita sudah tidak mampu lagi.
Tulisan ini, sebagaimana tulisan saya sebelumnya juga terjadi dalam kehidupan saya dan melalui doa dan iman, Allah membukakan mata hati saya bahwa sesungguhnya tidak ada yang kecil atau besar di mata Allah SWT, artinya semua yang kecil itu sebenarnya sama besarnya di hadapan Allah SWT, karena Allah SWT menilik hati dan iman kita, bukan besar-kecil, ringan-beratnya persoalan yang kita alami.
Semoga melalui tulisan ke empat ini, kita semakin disadarkan bahwa mulai dari hal yang kecil sampai dengan yang besar, semuanya penting di hadapan Allah SWT.
II. MANUSIA TEMPAT KHILAF
Intelektualitas dalam diri manusia adalah suatu karunia yang diberikan Cuma-Cuma oleh Allah SWT kepada manusia. Semua diberikan porsi dan kesempatan yang sama di dalam kehidupan ini. Tidak ada seorang yang lahir di dunia ini sudah begitu jeniusnya, sehingga tanpa melalui proses pendidikan, ia otomatis akan menjadi serang insinyur, dokter atau professor. Kepandaian yang dianugerahkan Allah SWT bukan berarti tanpa batas, norma masyarakat, agama, peraturan dan sebagainya merupakan sekat yang membatasi agar “intelektualitas” yang dimiliki seseorang tetap berjalan pada jalur yang benar.
Manusia seringkali lupa akan hal itu, untuk sebagian manusia, kepandaian, kejeniusan, kesuksesan dijadikan sebagai “tuhan” bagi dirinya, sehingga yang terjadi adalah jika tanpa pagar yang membatasi, akan melahirkan manusia-manusia yang tidak lagi mengakui keberadaan Allah SWT dalam hidupnya. Jangan coba-coba berbicara tentang Allah SWT kepada orang semacam ini, karena bagi mereka cerita kita hanya seperti khayalan atau dongeng sebelum tidur.
Keilmuan yang mereka kuasai telah menuntun mereka kepada pemahaman yang sangat dogmatis, sehingga kebenaran bagi mereka hanya ada pada ilmu pengetahuan semata, di luar itu semua hanya fiksi. Ilmu yang diserap secara dogmatis, akan membuat mereka tidak lagi membutuhkan Allah SWT, karena bagi mereka semua bisa dicari jawabannya hanya melalui ilmu pengetahuan.
Apakah pengertian ilmu hanya semata-mata pengetahuan yang kita peroleh melalui bangku pendidikan formal saja ? Tidak ! Ilmu meliputi semua pengetahuan yang diperoleh baik melalui proses pendidikan maupun otodidak (belajar sendiri).
Apakah begitu luar biasanya ilmu yang dikuasai seseorang, sehingga dia bisa bersikap tidak membutuhkan Allah SWT ? Ya, jika ilmu tidak disertai dengan IMAN KEPADA ALLAH SWT SECARA BENAR, akan mengakibatkan, mata hati manusia tertutup. Jika kita selalu bersikap memilah-milah persoalan kecil-besar, berat-ringan, maka pada saat itulah, manusi bisa terjerembab pada sikap takabur dan menganggap bahwa hanya dirinya saja yang hebat.
Saya memiliki pengalaman spiritual yang mungkin bagi orang lain merupakan kejadian yang kecil dan tidak berarti. Kejadiannya adalah pada suatu hari libur, saya mengajak keluarga berekreasi ke suatu pusat perbelanjaan besar di Jakarta. Ketika mobil masuk ke halaman parkir, ternyata seluruh halaman parkir sudah penuh sesak, sehingga tidak ada lagi ruang parkir yang tersisa. Setelah mencoba berputar beberapa kali, hasilnya tetap sia-sia. Lalu saya menghentikan mobil disalah satu sisi bersebelahan dengan area parkir dan saya mulai berdoa. Doa yang selalu saya panjatkan urutannya adalah Istigfar, memohon ampun atas semua dosa saya dan keluarga, bersyukur atas segala hal termasuk ketika saya sedang menghadapi masalah, menyampaikan niat/permohonan dan saya tutup dengan doa Tasbih. Selesai berdoa, saya tetap berdzikir dalam hati. Tak lama kemudian, putri sulung saya berkata “Pi, ayo jalan, ngapain berhenti disini”, dengan polos saya menjawab “Biarin aja, papi disuruh Allah menunggu disini”. Pembaca tahu apa yang terjadi setelah percakapan tersebut ? Mobil yang parkir tepat di sisi tempat saya berhenti, keluar dari area parkir, sehingga saya dapat memarkir mobil di tempat yang ditinggalkannya. Subhaanallaah.
Bagi saudara yang membaca tulisan ini, apa yang berkecamuk dalam hati Saudara setelah membaca cerita saya tersebut, saya yakin ada yang mengatakan “itu hanya suatu kebetulan” atau “luar biasa kuasa Allah SWT tak terbatas”. Saya adalah orang yang tidak percaya kepada “kebetulan” karena saya yakin dengan iman, semua yang terjadi dalam kehidupan saya, tidak terlepas dari campur tangan Allah SWT dan yang kedua adalah saya tidak percaya pada “kebetulan”, karena saya berdoa dan saya harus yakin bahwa kejadian itu merupakan jawaban Allah SWT atas doa saya.
Yang lebih berkesan atas kejadian itu adalah, saya diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk mengajarkan kepada anak saya dengan berkata “Anak-anak, kalau kita yakin dan beriman, kita akan selalu diperlihatkan, bahwa dalam persoalan sekecil apapun, Allah SWT memperhatikan dan menyayangi kita” Subhaanallaah.
Saya bersyukur kepada Allah SWT, bahwa saya memperoleh pelajaran yang sangat berarti dalam hidup saya, betapa dalam persoalan yang mungkin bagi sebagian manusia adalah perkara kecil, justru Allah SWT tunjukkan kepada saya, betapa Allah SWT selalu memperhatikan mulai dari hal kecil dalam kehidupan saya.
Manusia adalah tempat khilaf, artinya diri kita tidak pernah luput dari kelupaan, kealpaan, kekeliruan, kesalahan baik disengaja maupun tidak, sehingga jika kita menyadari hakekat bahwa semua kelemahan itu adalah sesuatu yang tidak bisa lepas dari diri kita, maka keberadaan Allah SWT sebagai panutan hidup bagi kita, menjadi begitu penting untuk meminimalisir dan bahkan mengeliminir semua kelemahan yang kita miliki.
Ilmu adalah penting, karena dengan ilmu itulah kita menjadi seorang yang berintelektual dan mampu mengenal Allah SWT secara utuh, akan tetapi kita dilarang menjadikan ilmu sebagai “tuhan” dalam kehidupan kita, karena itu sama saja dengan menyekutukan Allah SWT. Dengan perkataan lain, jadikan lah ilmu sebagai alat atau sarana untuk kita lebih mendekatkan diri kita kepada Allah SWT dengan senantiasa bersyukur atas ilmu yang kita miliki. Keris adalah benda yang dianggap manusia sebagai sesuatu yang memiliki kekuatan magis, tapi kita harus ingat bahwa tidak ada bedanya antara keris dengan sendok atau garpu, motor, mobil atau apapun. Itu hanya sekedar alat atau sarana yang dibuat manusia, yang diberikan talenta atau bakat oleh Allah SWT untuk menciptakan benda-benda itu agar bisa digunakan dalam kehidupan manusia. Yang kita kagumi adalah, begitu besar kuasa Allah SWT, memberikan kemampuan kepada seorang empu atau pencipta alat-alat tersebut, sehingga mereka mampu menciptakan keris yang begitu indah atau benda-benda lainnya, tidak lebih dari itu. Jika akhirnya keris atau benda-benda itu diagung-agungkan, diperlakukan atau bahkan disembah melebihi ibadah kita kepada Allah SWT, maka kita sudah masuk kepada perbuatan musyrik.
III. MANUSIA TEMPAT KESOMBONGAN
Semua manusia memiliki ego, besar kecilnya tergantung sejauh mana latar belakang pendidikan, pergaulan, luasnya wawasan berpikir dan tentunya KEIMANAN seseorang.
Jika kekhilafan seseorang lebih cenderung terbentuk oleh dorongan nafsu dan emosi yang berasal dari dalam diri, maka kesombongan cenderung lahir dari pengaruh eksternal. Pada umumnya kesombongan timbul karena manusia “merasa” memiliki kelebihan dibandingkan dengan orang di sekitarnya, apakah itu kekayaan, kepandaian, keturunan (misalnya anggota keluarga pejabat/raja dsb) atau kecantikan/ketampanan dan lainnya.
Ketika kesombongan itu sudah merasuk dalam sifat dan sikap hidup seseorang, maka muncul ego negatif yang mengarahkan manusia pada individualis centris, artinya rasa ke-aku-an manusia tersebut, berubah menjadi “aku manusia paling…” dibanding kelompok manusia lainnya. Apakah manusia itu berubah menjadi atheis (tidak memiliki atau mempercayai adanya Tuhan), belum tentu ! Banyak orang-orang disekitar kita yang mengidap “penyakit” seperti ini. Dari lahiriah, kita akan terkecoh dengan segala prilaku yang menampakkan “ke-saleh-an”nya, tetapi kenyataan yang sebenarnya adalah, sebenarnya orang tersebut menganggap hubungannya dengan Tuhan adalah sesuatu yang bersifat formal belaka, artinya karena lingkungan sosial dimana ia berada, semua beragama, maka selayaknyalah dia pun harus beragama.
Lalu bagimana dengan prilaku IMAN orang tersebut, tentunya KOSONG, karena semua yang dilakukannya hanya bersifat “kosmetik” belaka. Agama dijadikan “alat kecantikan” untuk menutupi ego negatif dalam dirinya. Ciri umum yang seringkali bisa kita lihat dari orang-orang semacam itu adalah, dalam setiap ibadah yang ia lakukan, ia ingin semua orang tahu atau dipublikasikan, senang dipuji jika melakukan ibadah dan sebagainya.
Pada umumnya, akibat kesombongan itu, manusia cenderung menempatkan Allah SWT hanya sebagai “ban serep”, yakni dibutuhkan manakala dia tidak lagi mampu mengatasi persoalan yang dihadapinya dengan kekuatan sendiri. Contoh yang sangat nyata dalam hidup kita akhir-akhir ini adalah koruptor yang sering mengumbar pernyataan yang bernada “menjual” nama Tuhan atau Allah SWT untuk pembenaran atas perbuatannya. Pertanyaannya adalah, apakah pada saat orang tersebut melakukan korupsi, tahukah atau ingatkah dia, bahwa apa yang dilakukannya adalah perbuatan dosa ? Kesombongan akibat kekuasaan dan jabatan telah membutakan hati nurani manusia, sehingga mengalahkan segalanya termasuk keberadaan ajaran agama.
Ilmu tanpa Iman akan berubah menjadi srigala yang ganas. Banyak ilmuwan yang karena kejeniusannya lalu menyepelekan kuasa Allah SWT. Dengan segala kemampuannya, dia mencoba menaklukkan definisi tentang alam semesta dengan teori ilmiah dengan mengenyampingkan kebesaran Allah SWT. Manusia seperti ini, tidak menyadari bahwa sebenarnya kemampuan yang dimilikinya tidak lebih dari segumpal daging yang bernama OTAK, jika dalam satu detik saja, Allah SWT menggeser salah satu syaraf otak tersebut, maka saat itu juga dia akan linglung, bahkan mungkin menjadi lumpuh dan tidak berguna lagi.
Betapa banyak manusia yang mati dengan sia-sia karena kesombongan. Akankah kita membiarkan diri kita diperbudak dengan kesombongan itu dan menempatkan Allah SWT hanya sebagai “ ban serep” di dalam hidup kita ?
IV. MANUSIA TEMPAT TAKABUR
Kita sering terjebak dalam pemikiran tentang pembagian tugas antara manusia dengan Allah SWT. Merasa dirinya mampu, lalu manusia menyusun pembagian tugas yakni kalau persoalan seperti ini adalah urusan saya dan kalau seperti itu adalah urusan Allah SWT. Akibatnya kita tidak pernah mensyukuri nikmat atau hikmah yang kecil-kecil, karena menganggap karena itu adalah hasil dari kemampuannya atau terjadi secara “kebetulan”.
Saya punya banyak pengalaman spiritual yang akan saya ceritakan kepada pembaca, betapa nikmatnya saya pribadi merasakan akan kasih sayang Allah SWT dalam hidup saya.
Pada bulan Ramadhan tahun 2008, sebagaimana aktivitas saya selama bulan suci tersebut, yaitu menyampaikan tausiah Ramadhan ke seluruh cabang-cabang perusahaan di daerah yang saya bawahi. Ketika itu, saya memberikan tausiah di cabang Serang. Waktu menunjukkan sekitar pukul 15.30 berarti kira-kira 2 jam menjelang berbuka puasa. Tiba-tiba timbul keinginan saya untuk minta tolong kepada istri saya untuk membelikan gulai ikan kakap untuk saur esok hari, tapi niat itu saya urungkan karena berpikir kasihan pada istri yang berarti harus keluar rumah hanya sengaja membelikan makanan keinginan saya tersebut. Pikiran dan keinginan tersebut tidak pernah saya ceritakan kepada siapapun. Setelah selesai memberikan tausiah dan berbuka puasa bersama kepala cabang dan karyawan setempat, saya pamit pulang.
Ketika saya diantar menuju mobil, kepala cabang tersebut mengatakan, ada oleh-oleh gulai kepala ikan kakap untuk saya dan sudah dititipkan kepada supir saya. Saat itu saya hanya bisa menangis, pembaca bisa membayangkan, saya tidak berdoa untuk minta gulai kepala ikan kakap kepada Allah SWT, saya hanya punya keinginan yang itupun tidak pernah saya ungkapkan kepada siapapun, tapi Maha Penyayang Allah SWT maha mengetahui segala keinginan hamba NYA. Sekali lagi saya tegaskan, saya tidak percaya kepada “kebetulan”, saya yakini itulah kasih sayang Allah SWT kepada saya dan bahkan kepada pembaca sekalian. Apakah karena saya orang baik, suci, rajin ibadah dan sebagainya. Jawaban saya BUKAN, itu hanya semata-mata kemurahan NYA saja. Subhaanallaah.
Cerita ini membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang kasih sayang Allah SWT kepada manusia, tanpa batas apakah besar-kecil, berat-ringan dan seterusnya.
Perbedaan cerita pengalaman spiritual saya yang pertama dengan yang kedua adalah pada pengalaman yang pertama saya berdoa dengan iman dan pasrah kepada Allah SWT dan Allah SWT menjawab doa saya, sedangkan pengalaman kedua adalah Allah SWT menunjukkan bahwa DIA maha mengetahui apa yang dipikirkan dan diinginkan hamba NYA, walaupun belum atau tidak diungkapkan melalui doa, artinya tidak ada yang tersembunyi dalam diri atau hati kita di hadapan Allah SWT.
Dari dua pengalaman sederhana atau mungkin “kecil” bagi orang lain, hikmah yang paling dalam adalah apalagi yang bisa disombongkan oleh kita sebagai manusia. Semua telanjang di hadapan Allah SWT, masih adakah manusia yang berani takabur di hadapan NYA. Manusia ibarat sebutir pasir di padang gurun, apalah artinya. Semut yang kecil pun disayangi Allah SWT, mereka diberi makan dan tempat tinggal yang terlindung di bawah tanah. Apalagi kita manusia yang dikatakan sebagai makhluk yang paling mulia di hadapan NYA, masihkah kita berani mengecilkan bahkan menyepelekan keberadaan Allah SWT dalam hidup kita, bahkan menjadikan NYA hanya sebagai “ban serep” ?
V. KUASA TANPA BATAS
Ilmu Allah SWT tak bedanya dengan angin, falsafah ini saya dapatkan dari seorang sahabat sekaligus guru spiritual saya. Apa maknanya ? Kita bisa merasakan angin tapi kita tidak pernah bisa melihat dan memegangnya. Falsafah ini sangat luar biasa dalam, karena kita sebagai manusia sebenarnya memiliki keterbatasan dalam berhubungan dengan Allah SWT, tetapi bagi manusia yang hidup dengan IMAN, ia diberi kemampuan untuk mengetahui dan merasakan keberadaan Allah SWT melalui MATA IMAN nya. (Baca uraian tentang hal ini dalam tulisan saya BERDOA DENGAN IMAN).
Kali ini saya akan ceritakan bagaimana saya mencoba mempraktekkan IMAN melalui DOA. Pada saat saya bertanya pada guru saya, apakah saya bisa memindahkan hujan yang akan turun di suatu tempat dengan doa, dia hanya mengatakan bahwa saya bisa ! Asalkan antara NIAT dan IMAN harus berada salam satu garis, insya Allah doa itu akan terkabul.
Jika kita gambarkan sebuah pistol atau senapan, seseorang yang akan menembak, pasti akan mengukur atau menempatkan pisir di ujung senapan dengan celah pisir di belakang pada saat membidik sasaran, jika kedua pisir sudah segaris, maka ketika senapan/pistol ditembakkan, maka akan tepat mengenai sasaran yang dituju. Begitu pula di dalam berdoa, pisir pada ujung laras menggambarkan NIAT dan pisir belakang melukiskan IMAN, jika antara NIAT dan IMAN sudah segaris, insya Allah doa kita dikabulkan oleh Allah SWT berdasarkan rencana Allah SWT. Hal ini penting untuk dipahami, karena manusia cenderung berdoa dan berharap bahwa jawaban dari Allah SWT akan persis sebagaimana skenario yang dia bayangkan atau kehendaki. Tetapi kenyataannya, jawaban Allah SWT berbeda, karena kita harus pahami RENCANA MANUSIA belum tentu RENCANA ALLAH SWT.
Pada suatu sore, cuaca di kota Depok gelap gulita oleh awan hitam dan sebentar lagi akan turun hujan lebat, karena saya mendapat informasi dari beberapa yang hadir di acara tersebut bahwa di luar sekitar kota Depok sudah turun hujan lebat sekali. Saya hanya berpikir, kalau benar hujan lebat akan turun di tempat ini, maka acara akan berantakan.
Mulailah saya berdoa, doa yang sederhana sebagaimana hidayah yang saya dapatkan tentang BERDOA DENGAN IMAN. Saya awali doa dengan mengucapkan Istigfar, memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan yang ada dalam diri saya dilanjutkan saya bersyukur karena ijin Allah SWT saya bisa hadir di acara tersebut, kemudian saya sampaikan niat saya sebagai berikut : “ Ya Allah ya Tuhanku, niat hamba MU memohon ijin dan kuasa MU agar hujan yang akan turun di lokasi ini bisa dipindahkan ke tempat lain yang lebih membutuhkan, namun jangan sampai ada makhluk hidup lain yang menjadi korban karena doa hamba MU ini, hanya kepada MU hamba pasrahkan niat dan doa ini. Amin “. Setelah itu saya membaca Syahadat, Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq dan An Nash dan ditutup dengan doa Tasbih, selesai. Setelah itu saya lanjutkan dengan berdzikir dalam hati.
Tahukah pembaca, apa yang terjadi selanjutnya. Awan hitam yang semula begitu pekat dan menutupi langit, perlahan-lahan bergeser, berpindah dan dalam waktu yang singkat, di lokasi acara tersebut terang benderang, tidak ada satu titik hujan pun yang turun. Subhaanallaah.
Permohonan seperti ini berkali-kali saya praktekkan dan alhamdullilah dikabulkan.
Hebatkah saya ? TIDAK ! itu hanya seijin dari Allah SWT semata. Kenapa saya katakan seperti itu, karena pada saat saya berdoa, saya menyampaikan perhohonan IJIN dan KUASA dari Allah SWT atas doa itu. Hakikatnya, jika kita meminta ijin berarti kita sudah harus siap menerima segala konsekuensi jawabannya, yakni kemungkinan DIIJINKAN atau DITOLAK, berarti sejak awal dalam doa tersebut sudah terkandung kepasrahan saya kepada Allah SWT. Soal dikabulkan atau tidak permohonan itu, hanya Allah SWT yang tahu jawabannya.
Apa esensi dari pengalaman spiritual ini, dengan segala keterbatasan yang ada pada diri manusia, Allah SWT tetap memberikan kemampuan kepada manusia untuk mengenal rahasia Allah melalui IMAN sekali lagi IMAN, tidak ada yang lain.
Apakah pengalaman spiritual yang saya alami hanya berlaku pada mencegah turunnya hujan. Tentu tidak, Allah SWT memberikan ijin kepada saya untuk mengalami pengalaman spiritual itu, untuk menunjukkan bahwa Allah SWT memiliki kuasa tanpa batas di dalam kehidupan kita. Sejak memperoleh pengalaman seperti itu, saya juga mencoba mengobati dengan cara seperti itu, yakni dengan IMAN dan KEPASRAHAN, karena saya tahu, saya hanya hamba NYA yang memohon ijin dan kuasa NYA, selebihnya adalah KUASA ALLAH SWT yang bekerja. Subhaanallaah.
VI. OBAT DALAM KEHIDUPAN
Jaman terus berubah, kehidupan manusia semakin kompleks dan sulit. Bencana terus mengintai, kejahatan semakin merajalela dan tuntutan kebutuhan ekonomi semakin sulit. Manusia panik mencari sesuatu yang tidak ada, dukun, paranormal, dan peramal mendadak laris. Kita terbelenggu oleh ketakutan sendiri, kuatir tidak mampu menghadapi masa depan, takut tidak dapat menghidupi anak dan istri. Timbullah gejala kejiwaan seseorang yang frustrasi dan mengambil jalan pintas dengan bunuh diri dan sebagainya.
Fenomena ini akan semakin menggila di akhir jaman, manusia kehilangan kendali, dikejar nafsunya sendiri dan seterusnya sampai akhirnya mati dengan sia-sia. Keputusasaan itu menunjukkan gejala manusia sudah begitu jauhnya dari Tuhan, Allah SWT.
Cerita tentang pengalaman spiritual yang saya alami di atas sebenarnya telah memberikan kita kesaksian yang hidup bahwa di dunia ini manusia tidak sendiri. Ada dzat yang dinamakan Allah SWT, Tuhan yang kita panggil dengan Allahu Akhbar, Tuhan Yang Maha Besar yang setia selama 24 jam menemani, menyayangi dan melindungi kita, tanpa henti dan gratis.
Sakit penyakit, bencana alam, kebangkrutan usaha, kehancuran rumah tangga, keputusasaan, kesedihan, krisis ekonomi global dan apapun namanya yang kita alami. Apakah DIANTARA SEMUA ITU ADA YANG LEBIH BESAR DARI KUASA ALLAH SWT ??? Jika jawabannya tidak, lalu apa yang kita kuatirkan sehingga kita harus menyekutukan Allah SWT dengan mendatangi dan meminta pertolongan kepada dukun dan sebagainya.
Saya akan bercerita tentang pengalaman spiritual saya ketika saya sakit keras pada tahun 2002 dan hampir tak terselamatkan. Ketika itu saya merasakan sesak nafas dan demam tinggi yang tidak bisa surut selama hampir 1 bulan dan sudah dirawat di 2 rumah sakit serta ditangani oleh dokter-dokter spesialis di bidangnya, tanpa ada satu hasil apapun bahkan semua diagnose terhadap sakit saya keliru, ada yang mengatakan saya sakit ginjal, paru-paru, flu berat dan sebagainya. Beberapa kerabat dan rekan agar saya berobat ke luar negeri, tapi karena pertimbangan keuangan hal itu mustahil saya lakukan. Kondisi semakin parah karena selain sesak nafas, demam tinggi, saya pun sudah mulai kehilangan memori ingatan. Dalam hitungan menit ketika saya selesai melayani tamu yang menjenguk, seketika itu saya lupa siapa yang datang menjenguk, padahal itu baru terjadi beberapa menit yang lalu. Entah berapa biaya yang sudah dikeluarkan untuk upaya pengobatan itu. Segala upaya sudah dilakukan, sampai satu saat, salah satu teman dekat saya, membawa saya kepada seorang paranormal (waktu itu saya belum mendapat hidayah tentang BERDOA DENGAN IMAN), jadi kemanapun saya dibawa, asal untuk kesembuhan, saya jalani. Paranormal itu seorang wanita separuh baya. Setelah berdoa sejenak, paranormal itu hanya berkata singkat “Orang ini memang diguna-guna orang tetapi dia sendiri juga ada sakit, tapi sudahlah tidak usah kuatir, orang ini ada dewa penolongnya (dalam istilah Cina, disebutkan bahwa saya punya Qui Jin artinya Dewa Penolong). Hanya itu yang diucapkannya. Sekembali kerumah saya bingung siapa dewa penolong yang dimaksud, karena sakit yang semakin parah, saya tidak mengingat lagi ucapan paranormal itu.
Selang dua hari setelah ucapan paranormal itu, tiba-tiba saya dipanggil oleh pimpinan perusahaan tempat saya bekerja dan beliau hanya mengatakan “besok kamu buat passport dan lusa ikut saya ke Singapura untuk berobat”. Begitu parahnya sakit saya, sampai-sampai selama perjalanan dari rumah sampai di airport Changi di Singapura, mata saya terbuka, tapi tidak ada satupun peristiwa yang saya ingat. Begitu pula dokter di Singapura mengatakan bahwa saya ini sudah gila, bagaimana mungkin demam setinggi 40 derajat dibiarkan sebulan dan baru dibawa setelah kritis seperti itu, hasil diagnose, diketahui bahwa penyebab demam tersebut adalah klep jantung yang infeksi dan termakan virus, pernyataan dokter jika saya terlambat 1 hari lagi, maka hanya ada 2 kemungkinan, yakni stroke (lumpuh total) atau meninggal. Yang istimewa dari kejadian ini adalah karena selama ini orang mengenal pimpinan saya sebagai figur yang keras, sangat tegas dan workoholic. Karena pertolongan Allah SWT melalui pimpinan saya tersebut, nyawa saya terselamatkan. Subhaanallaah.
Apa hikmah dari kisah sakit saya ini, pertolongan Allah SWT bisa datang melalui siapapun bahkan dari orang yang tidak pernah kita duga sebelumnya artinya Allah SWT memiliki kuasa tanpa batas di dalam menjawab doa kita dan tidak akan pernah dapat kita terka jalan NYA.
Jawaban yang Allah SWT berikan kepada saya dengan pembaca mungkin berbeda walaupun persoalan yang dihadapi serupa, jalan yang diberikan tidak selalu sama, tetapi akhir dari jawaban itu pasti sama, yakni kita merasakan kuasa Allah SWT yang luar biasa. Suatu pengalaman spiritual yang takkan terlupakan selama hidup.
Situasi dan kondisi lingkungan, masyarakat, bangsa, Negara, ekonomi, beban hidup kita semakin berat, akankah kita terus mencari kambing hitam untuk sekedar pembenaran atau saling menyalahkan hanya ingin merasa menang.
Mulailah dengan sesuatu yang benar, mengajak keluarga, istri dan anak-anak kita untuk bersimpuh dan sujud di hadapan Allah SWT, ber-igstifar memohon ampun atas segala dosa kesalahan kita dan keluarga serta para pemimpin bangsa kita, bersyukurlah bahwa Allah SWT masih memberikan kepada kita keadaan yang jauh lebih baik dibandingkan orang lain yang lebih menderita di sekitar kita, sampaikan niat dan permohonan berupa petunjuk, hidayah dan jalan keluar terbaik yang jika dikabulkan, akan lebih mendekatkan kita kepada Allah SWT dan Rasullullah serta akhirnya pasrahkanlah semua doa dan permohonan itu hanya pada kuasa Allah SWT.
Saya berkeyakinan, tidak ada doa yang tidak dijawab, karena waktunya adalah waktu Allah SWT. Hanya Allah SWT yang tahu kapan akan menjawab doa kita. Jangan kalah sebelum berperang, belum mencoba, kita sudah mengatakan susah, karena kita tahu doa seperti apa yang diterima Allah SWT. Memang kita tidak akan pernah tahu hal itu, tapi ingat kita diberi MATA IMAN oleh Allah SWT, untuk mengenal bahwa Allah SWT itu hidup dan mendengarkan doa kita. WAKTU atau KAPAN dan JAWABAN seperti apa yang diberikan Allah SWT kepada kita, hanya DIA yang mengetahuinya, maka kita dituntut PASRAH dan TAWAKAL.
VII. PENUTUP
Tulisan ini mengajak kita untuk kembali kepada fitrah manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia boleh berusaha namun pada akhirnya Tuhan jualah yang memutuskan.
Kekuatiran, ketakutan dan sebagainya adalah sesuatu yang manusiawi terjadi dalam kehidupan kita, namun yang jangan pernah dilupakan, bahwa kita memiliki Tuhan yang kita kenal dengan Allah SWT, Allahu Akhbar, yang terus menerus mengawasi dan menolong kita dan tidak pernah jauh dari kita.
Di dalam doa, DIA bersama kita. Didalam kekuatiran, Allah SWT selalu memberikan kita kekuatan. Didalam ketakutan, Allah SWT adalah perisai kita. Didalam kesedihan, DIA selalu membelai dan menghibur kita. Didalam kebuntuan, Allah SWT menerangi dan membukakan jalan untuk kita. Didalam kedinginan, DIA akan memeluk dan menghangatkan kita. Bahkan dalam kematian kita pun, DIA menantikan dan menyambut kita dengan senyum. Subhaanallaah. Masihkan ada yang lebih besar dari KUASA NYA. Subhaanallaah.
Sekali lagi ! Ingatlah selalu pesan ini dan jangan pernah kita lupakan. “Persoalan sebesar apapun yang kita hadapi dalam hidup ini, TIDAK ADA YANG LEBIH BESAR DARI KUASA ALLAH SWT” karena :
“Innama amruhuu idzaa araada syai-an yaquulalahuu kun fayakuun” (Sesungguhnya keadaan–Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya ‘Jadilah !’ maka terjadilah ia)
Bogor, 18 November 2008
Pimpin Nagawan
Langganan:
Postingan (Atom)
