Minggu, 01 Agustus 2010

MARI BERBUAT KEBAIKAN

Renungan Ramadhan 2010

Banyak orang berpikir dan berencana bahkan lebih hebat lagi mereka “berwacana” untuk berbuat sesuatu untuk mengisi bulan Ramadhan ini dengan “hal-hal besar”.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “hal-hal besar” di atas ? Sebelum kita membahas hal tersebut, saya akan mencoba untuk memotret berbagai aktivitas masyarakat dalam menyambut bulan Ramadhan sampai Hari Raya Idul Fitri, berdasarkan “kebiasaan” yang sering saya lihat selama ini :

1. Mereka yang “berduit” mungkin sedang sibuk mempersiapkan diri untuk melaksanakan ibadah puasa sambil ber-umrah;
2. Ada pula mereka yang “ber-uang” sudah mempersiapkan anggaran belanja rumah tangga selama bulan Ramadhan atau bahkan membuat jadwal, tempat, daftar menu yang akan dihidangkan atau disantap pada saat saur dan berbuka selama 30 hari puasa;
3. Ada lagi yang lebih “hebat”, yaitu berpikir dan berencana untuk mengenakan pakaian apa, beli di butik mana pada saat hari raya Idul Fitri nanti. Ini mungkin typical orang yang selalu “selangkah di depan”;
4. Ada juga yang berencana untuk memberikan sedekah, infaq dan zakat yang lebih, selama Ramadhan dan Hari Raya nanti atau mengundang anak-anak yatim dan kaum dhuafa untuk berbuka puasa bersama dsb.
5. Pada umumnya masyarakat bersuka cita menyambut datangnya Ramadhan, karena mereka mengerti bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, sehingga mereka ingin meningkatkan kualitas ibadah selama bulan suci tersebut;
6. Sebagian masyarakat bersuka cita menyambut datangmya Ramadhan karena mereka berpikir bahwa setelah berpuasa, mereka akan merayakan hari raya, mengenakan pakaian baru dsb.

Apabila ke enam aktivitas ini katakanlah mewakili berbagai hal yang terjadi dalam masyarakat di dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, lalu apa sebenarnya hakekat yang bisa diambil hikmahnya, bagi kita ?

Banyak dari antara kita masih saja terperangkap pada pemikiran, saya ini orang tidak mampu atau berapa gaji saya untuk saya bisa berbuat sesuatu di bulan Ramadhan ini.

Mengapa mental dan iman kita tidak mencoba keluar dari pola pikir seperti itu, yang akhirnya menyebabkan kita buntu dan tidak berbuat sesuatu, padahal sebenarnya kita bisa melakukannya.

Di awal tulisan ini, saya SENGAJA menaruh kata “hal-hal besar” dalam tanda kutip dengan huruf kecil dengan tujuan mengingatkan kita bahwa berbuat “hal-hal besar” bukan hanya milik “ORANG-ORANG BESAR” atau milik orang-orang kaya atau orang yang merasa dirinya mampu!

Tausyah Ramadhan kali ini, saya ingin memotivasi sekaligus membangkitkan rasa “PERCAYA DIRI” orang-orang Islam yang selama ini, masih banyak yang memiliki mental “MEMINTA-MINTA”, bukan “MEMBERI”, kenapa ? Coba bayangkan berapa jumlah umat Muslim di Indonesia, saya yakin lebih dari 70%, tapi apa yang terjadi dengan pembangunan Mesjid saja, kita harus meminta-minta sumbangan di jalan-jalan, apakah ini bukan suatu hal yang ironis !

Begitu pula dalam berbuat sesuatu, khususnya di bulan Ramadhan, ketika kita berhadapan dengan kata sedekah,infaq atau zakat saja, langsung yang terpikir adalah kalimat, saya tidak mampu atau berapa gaji saya, jangankan untuk bersedekah, untuk makan sehari-hari saja masih kurang.

Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang mengecilkan dirinya sendiri, kita semua pada hakekatnya adalah “ORANG MAMPU” kenapa ? Karena kita diberikan AKAL BUDI dan IMAN oleh Allah SWT, dan hanya kepada manusia Allah SWT memberikan hal itu, kenapa kita berani mengatakan bahwa kita “TIDAK MAMPU”, bukankah hal itu sama saja dengan kita juga mengecilkan Kuasa ALLAH SWT ?

Perbuatan yang dinilai besar tidak selalu diukur dari fisik semata, tetapi NIAT dan IKHTIAR pun, di hadapan Allah SWT, bisa lebih besar dari wujud fisik yang kita bayangkan. Kita wajib merasa “kecil” hanya di hadapan NYA saja, karena memang hanya Allah SWT yang wajib “DIBESARKAN” dalam hidup kita, karena kita adalah milik NYA dan DIA menguasai seluruh kehidupan kita.

Marilah di dalam bulan Ramadhan ini kita merubah MENTAL dan IMAN kita yang selama ini sudah terlalu lama terperangkap dalam KELESUAN dan KETIDAKPERCAYAAN DIRI. Katakan dalam hati dan tunjukkan dalam perbuatan, bahwa kita sebagai umat Muslim mampu menjadi “Pemberi” bukan “Peminta”, dengan melakukan sesuatu dari hal terkecil yang bisa kita lakukan, untuk menolong orang lain, khususnya anak-anak yatim dan kaum dhuafa.

Sekali lagi jangan mengukur sesuatu dari apa yang bisa kita lakukan namun berbuatlah dengan IKHLAS,TULUS dan hanya karena Allah SWT semata, karena yang akan menilai NIAT dan IKHTIAR, sekecil apapun yang kita lakukan, hanya Allah SWT, bukan diri kita atau orang lain. Amin.

Selamat menunaikan ibadah Ramadhan, semoga Allah SWT selalu mengaruniai kekuatan, ketabahan dan keikhlasan di dalam kita menjalankannya.Amin.

Wassalamualaikum Wr.Wb

Pimpin Nagawan

Senin, 09 November 2009

BERIKAN “QURBAN” YANG TERBAIK UNTUK NYA ( Renungan Memperingati Hari Idul Adha 1430 H)

I. PENGANTAR
Setiap tahun umat Islam memperingati dan merayakan hari raya Idul Adha dan umumnya hampir semua umat Islam bergembira menyambut salah satu hari raya Agama Islam ini.

Kegembiraan itu bermacam-macam ada sebagian bersuka cita karena berlangsung bersamaan dengan pelaksanaan rukun Islam ke lima bagi yang sedang melaksanakan ibadah haji di tanah suci. Ada pula yang bergembira berkumpul dengan sanak saudara, karena bersamaan dengan hari libur nasional.

Kebahagiaan lain adalah yang seringkali lebih menjadi sangat penting, karena pada hari raya Idul Adha atau sering disebut sebagai Idul Qurban itu, diadakan pemotongan hewan qurban yang merupakan sumbangan atau qurban yang disampaikan masyarakat yang berniat untuk berqurban. Kemudian daging qurban tersebut akan dibagikan kepada mereka yang digolongkan di dalam masyarakat kurang mampu, kaum dhuafa dan tentunya para anak yatim.

Beramai-ramai mereka berebut kupon pembagian daging qurban dari para panitia penyelenggara pemotongan qurban, untuk mendapat bagian sesuai dengan nomor urut pada kupon tersebut. Sekilas semua berjalan seperti normal. Makna Idul Adha lebih semarak sebagai pemotongan hewan qurban dan pembagian daging qurban,titik.

Di dalam tulisan ini, saya mencoba melakukan pendalaman makna berqurban, khususnya bagi kita, umat Muslim. Apakah perayaan Idul Adha atau Idul Qurban berhenti hanya pada seremoni potong dan bagi daging hewan saja. Jika kita menjawab pertanyaan ini dengan “Ya”, lalu apa bedanya dengan kenduri atau pesta yang dilakukan seseorang dengan melakukan pemotongan hewan, lalu bergembira makan minum bersama setelah itu bubar dan selesai.

Marilah kita masuk lebih dalam, untuk mengenal rencana Allah SWT, ketika kita diijinkan “MEMPERINGATI” bukan sekedar “merayakan” Idul Adha, agar kelak anak cucu kita MEMPERINGATI hari raya Idul Qurban dengan lebih khusyuk dan penuh rasa syukur.

II. BERQURBAN ADALAH BERKORBAN

Mengertikah kita bahwa arti kata qurban adalah sebenarnya identik korban. Ada sesuatu yang secara sukarela kita berikan tanpa mengharapkan balasan. Berkorban yang tulus seharusnya tanpa pamrih, sehingga ketika kita melaksanakan qurban, kita seharusnya tidak berpikir tentang “pahala”, karena jika kita melakukan qurban dengan harapan mendapat pahala, maka kita terjebak pada pola ibadah “transaksional” layaknya proses jual beli dengan Allah SWT, karena kita berharap dengan berqurban maka akan memperoleh pahala, itulah PAMRIH.

Pahala diberikan Allah SWT tanpa kita minta dan itu merupakan hak prerogatif Allah SWT, kita sebagai manusia tidak pernah tahu, apa bentuk pahala yang IA berikan untuk kita.

Adalah sesuatu yang aneh jika orang yang menyumbangkan hewan qurban untuk diqurbankan, lalu ikut berebut daging qurban dengan masyarakat penerima daging qurban, yang pada umumnya kaum yang tidak mampu berqurban. Ada cara yang lebih halus, dengan membisikkan kepada petugas potong hewan, agar nanti, ia menginginkan paha kanan atau hatinya atau jantungnya dan sebagainya. Lalu dimana letak makna berqurban bagi orang tersebut. Kejadian seperti ini saya temukan dan saksikan sendiri, pada setiap peringatan hari raya Idul Adha.

III. MAKNA QURBAN PADA MULANYA

Kisah bagaimana Nabi Ibrahim A.S diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyerahkan anak semata wayangnya, Ismail, untuk dijadikan persembahan atau qurban kepada Allah SWT adalah peristiwa monumental dalam kehidupan seorang manusia di hadapan Sang Khalik.

Mungkin jika saya dihadapkan pada peristiwa serupa, sejujurnya, saya tidak akan sanggup untuk melakukannya. Saya tidak dapat membayangkan, bagaimana pertentangan bathin, Nabi Ibrahim A.S saat itu. Sebagai manusia, saya yakin minimal hatinya akan menangis, ketika ia mengetahui, bahwa yang diminta untuk diqurbankan adalah anaknya.

Mengapa Allah SWT tidak meminta qurban berupa hewan, kenapa anak seorang manusia dan orang itu adalah anak semata wayang Nabi Ibrahim A.S.

Ketika kita berdoa dan memohon sesuatu kepada Allah SWT, kita sangat berharap Allah SWT akan mengabulkannya, karena permohonan itu sangat penting dalam hidup kita.

Manusia adalah tempat khilaf, seringkali Allah SWT mengabulkan permohonan seseorang dan ketika permohonan itu sudah dikabulkan, manusia berpindah hati kepada “sesuatu” yang diberikan Allah SWT, sehingga seringkali manusia lebih memperhatikan bahkan mendahulukan “sesuatu” itu, dibandingkan Allah SWT.

“Sesuatu” itu akhirnya menjadi “berhala” dalam hidupnya. Allah SWT tidak mau disekutukan dengan apapun termasuk dengan “sesuatu” yang telah dijadikan “tuhan berhala” dalam hidup kita. Begitulah Nabi Ibrahim A.S diuji KETAQWAAN dan KESETIAAN nya oleh Allah SWT. Ismail anak semata wayangnya yang diberikan Allah SWT kepada NAbi Ibrahim A.S dimintanya kembali sebagai qurban.

Allah SWT ingin menilik hati Nabi Ibrahim A.S, apakah KETAQWAAN DAN KESETIAAN nya masih kepada Allah SWT ataukah sudah beralih ke anaknya.

Banyak diantara kita, pada saat belum memiliki momongan, setiap sholat dan tahajud siang dan malam, memohon kepada Allah SWT, agar dirinya diberikan keturunan. Ketika suatu saat Allah SWT mengabulkan doa nya dan ia memiliki seorang anak, mulailah ia beralih lebih men “tuhan” kan anak dari pada Allah SWT. Untuk melaksanakan ibadah sholat pun sudah jarang dengan alasan sibuk urus anak dan sebagainya.

Manusia mudah beralih KETAQWAAN dan KESETIAAN nya, hanya karena urusan duniawi. Nabi Ibrahim A.S berhasil melewati proses ujian berat itu. Karena KETAQWAAN dan KESETIAAN itulah, kita diijinkan untuk melaksanakan qurban cukup dengan hewan.

III. APA QURBAN KITA SAAT INI

Kita hidup di jaman yang serba praktis dan pragmatis, teknologi sudah memanjakan kehidupan kita sehari-hari.

Jangan berpikir bahwa hidup dijaman modern seperti ini, semua menjadi lebih mudah, serba praktis, cukup setor uang senilai tertentu ke lembaga pengelola qurban, semuanya akan diurus dan proses qurban selesai.

Di dalam kehidupan, dimana tawaran dan gemerlap “duniawi” yang sangat luar biasa seperti ini, justru godaan iman terhadap KETAQWAAN dan KESETIAAN kepada Allah SWT semakin berat. Logika saya sebagai manusia, mengatakan, jika godaan terhadap KETAQWAAN dan KESETIAAN, maka ujian yang Allah SWT berikan kepada manusia pun akan SEMAKIN BERAT.

Mengapa saya berani berandai-andai seperti ini. Coba kita bayangkan suasana kehidupan pada jaman Nabi Ibrahim A.S waktu itu, dimana saya yakin semua masih sangat lugu dan sederhana. Pemikiran yang ada saat itu, mungkin lebih pada bagaimana bertahan untuk hidup dengan beternak dan usaha-usaha lain yang masih sangat tradisional. Dalam era kehidupan seperti itu saja, Nabi Ibrahim A.S sudah mendapat ujian dari Allah SWT yang begitu berat.

Kita yang hidup di jaman millenium ini, apa yang tidak menggoda kita. Masih banyak umat Muslim yang pergi ke mesjid untuk ibadah seperti makan obat dengan resep dokter, yakni satu tahun sekali, hanya pada saat ibadah sholat Ied pada hari raya Idul Fitri, itupun karena malu dengan tetangga.

Lebih nyaman tidur mendengkur sambil berselimut dibandingkan harus bangun ditengah malam buta untuk bertahajud di hadapan Allah SWT.
Apa bentuk qurban kita saat ini ? Jawabannya adalah tetap sebagaimana tradisi qurban yang sudah berlangsung selama ini, yakni melalui hewan qurban.

Ada orang yang begitu “niat” dan gigih dengan berkorban uang makan dan sebagainya mengumpulkan uang, saking ingin memiliki sebuah benda yang namanya HANDPHONE. Jika niat dan tekadnya dibulatkan, ternyata dia bisa memiliki handphone yang begitu ia dambakan.

Apa beda usaha orang itu, jika saya ibaratkan dia ingin berqurban seekor hewan qurban dengan niat dan tekad yang sama, mungkinkah ia bisa membeli seekor hewan qurban yang harganya mungkin tidak semahal sebuah handphone ? Insya Allah bisa !! Tapi adakah niat itu dalam hati kita ?

Yang membedakan kedua contoh kasus di atas adalah, jika yang pertama ia lakukan demi “Kesenangan Duniawi” sedangkan yang kedua adalah demi ‘KETAQWAAN’ dan “KESETIAAN” sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim A.S kepada Allah SWT.

Jika kita diminta memilih diantara kedua contoh kasus di atas, mana yang akan saudara pilih, silahkan jawab di hati masing-masing, Allah SWT Maha Mengetahui.

IV. MEMBERI LEBIH MULIA DIBANDING “DIBERI”

Falsafah berkat dari Allah SWT sering dimaknai dengan ungkapan ini “BERILAH, MAKA KAU AKAN DIBERI”, kenapa kata “berilah” ada di awal kalimat dibandingkan dengan kata “diberi”. Berilah memberikan makna proaktif, dimana untuk bisa memberi, seseorang minimal harus “berusaha”.

Kita juga mengenal ungkapan “BERDOA DAN BERIKHTIAR/BERUSAHA”, bagi orang beriman, sebelum memulai suatu pekerjaan, ia akan memulainya dengan memohon pertolongan dan keridhoan kepada Allah SWT.

Setelah berdoa, berikhtiar dan berhasil, kita diajarkan untuk menyisihkan sebagian hasil yang kita dapatkan untuk dibagikan kepada anak yatim dan kaum dhuafa baik melalui sedaqoh, zakat dan infaq.
Jadi jika melihat urutan dari seseorang memulai sesuatu sampai dengan ia memperoleh sesuatu, semua ada campur tangan Allah SWT.

Makna Idul qurban adalah kita diijinkan Allah SWT untuk ‘MEMPERINGATI” nya, kenapa memperingati ? Supaya kita selalu ingat terhadap apa yang pernah Allah SWT perintahkan kepada Nabi Ibrahim A.S. dalam hal ber”qurban” (seperti kisah yang telah disampaikan di atas). Ritual qurban bukan selesai sampai perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim A.S saja dan bukan sekedar potong hewan serta bagi-bagi daging qurban.

Kita generasi saat ini, sampai kapanpun, selama kita mengakui beriman kepada Allah SWT, akan tetap dituntut untuk menunjukkan KETAQWAAN dan KESETIAAN kepada Allah SWT lebih dari sekedar “MERAYAKAN” hari raya Idul Adha. Tuntutan Allah SWT saat ini kepada kita adalah, mana yang lebih kita cintai “DUNIAWI” (yang saya umpamakan dalam wujud HANDPHONE) atau “ALLAH SWT” (yang saya sampaikan melalui perbuatan KETAQWAAN dan KESETIAAN kepada NYA).

Untuk itulah lebih baik kita “MEMPERINGATI” hari raya Idhul Adha, agar kita selalu ingat, apapun yang kita miliki dan inginkan Allah ijinkan dan insya Allah dikabulkan dengan catatan, bahwa diantara semuanya itu, tetap ada sebagian milik anak yatim dan kaum dhuafa. Kita boleh bercita-cita untuk memiliki “HANDPHONE” idaman dan menabung untuk mendapatkannya, tetapi kita juga harus memiliki niat dan tekad yang sama, agar suatu waktu, kita pun bisa membeli hewan untuk qurban, sendiri. Memberi lebih mulia dibandingkan diberi.

V. PENUTUP

Saya bersyukur diberi hidayah dan kemampuan oleh Allah SWT, untuk bisa membuat tulisan ini dan bisa dirampungkan menjelang PERINGATAN hari raya Idul Adha 1430 H, semoga tulisan sederhana ini, bisa menggugah hati kecil kita masing-masing.

Kita yang menyebut diri sebagai orang beriman, mudah-mudahan tidak lagi bersikap dan bertindak mendahulukan “DUNIAWI” kita, dibandingkan dengan kasih Allah SWT yang begitu besar dalam hidup kita. Jangan lagi, kita yang diberkati oleh Allah SWT dengan rejeki yang cukup, malah ikut berebut daging qurban dengan mereka yang lebih membutuhkan.

Jadikanlah target “berqurban” di sepanjang dan sisa hidup kita, dengan mempersembahkan “QURBAN” yang terbaik bagi NYA, yakni segala kemampuan yang kita miliki, agar di akhir jaman ini, kita menjadi orang-orang yang selalu diingat oleh Allah SWT kelak di akhirat.Amin Ya Rabbal Alamin.

Bogor, 10 November 2009

Pimpin Nagawan

Senin, 24 Agustus 2009

BERSYUKUR ATAS SEGALA PERKARA

Persepsi nikmat dalam konteks pemahaman iman kepada Allah SWT bukan sekedar sesuatu yang kita rasakan "ENAK atau MENYENANGKAN" Jika kita hanya bersyukur karena nikmat NYA saja, lalu apakah kita akan mengeluh atau menghujat ketika apa yang kita rasakan "TIDAK NIKMAT atau TIDAK MENYENANGKAN", padahal kedua-duanya berasal dari NYA.

Bersyukur harus terhadap keduanya ENAK-TIDAK ENAK, SENANG-TIDAK SENANG. Renungkanlah semua kejadian yang mungkin sangat/tidak menyenangkan, yang pernah kita alami dalam hidup kita. Lalu apa yang kita kita rasakan saat itu, bagaimana reaksi fisik/batin saat itu dan apa yang ada dalam pikiran kita saat itu. Mayoritas akan menjawab kesel,sedih,mengeluh bahkan ada yang menghujat.

Sekarang setalah kejadian itu berlalu, pernahkah kita mencoba merefleksikan antara kejadian yang tidak menyenangkan itu dengan apa yang terjadi kemudian, saya menyebutnya sebagai HIKMAH karena sudah beratus-ratus kali bahkan mungkin tak terhitung dalam hidup saya mengalami sesuatu yang menyakitkan, tapi justru melalui kejadian itulah Allah SWT berbicara dan menyampaikan sesuatu yang pada akhirnya saya tahu itu adalah sesuatu yang sangat baik dalam hidup saya.

Jadi antara NIKMAT dan HIKMAH tidak ada bedanya, yang membedakannya adalah Nikmat kita rasakan saat itu juga sedangkan HIKMAH baru kita rasakan beberapa waktu kemudian, tapi semua itu untuk kebaikan kita semua. Maka syukurilah keduanya.

KEYAKINAN DAN KEPASRAHAN

Kisah ini nyata dlm hidup saya.Tahun 2006 salah satu bisnis unit di perusahaan tempat saya bekerja merugi cukup besar. Boss meminta agar saya mengambil alih kendali perusahaan tsb. Pd awalnya saya menolak krn saya tdk memiliki pengalaman dalam mengelola pabrik secara langsung. Akhirnya krn boss yang terus mendesak,sy menerima permintaan itu. Saya sungguh awam ketika awal mulai menangani operasional pabrik tsb. Saya hanya yakin karena ini amanah dari Allah SWT, maka hanya kepada NYA saya berserah dan memohon pertolongan. Sejak saya mulai memegang kendali di perusahaan itu, praktis saya hampir tidak pernah keluar kantor utk makan siang. Saya beli makanan di kantin atau bawa makanan dari rumah, waktu makan saya batasi 20mnt, kemudian sholat dzuhur dan membaca surat Yasin atau doa Ukasyah serta memohon pertolongan Allah SWT agar saya diberikan kelancaran, kemudahan dan pertolongan agar bisa menunaikan amanah ini dengan baik. Subhanallah setiap hari saya melihat mukjizat dan kuasa Allah SWT menolong saya dalam segala hal. Syukur alhamdulillah th 2007 perusahaan itu laba walaupun masih kecil. Kebiasaan saya terus berlanjut di th 2008 dan saya benar-benar menikmati pertolongan Allah SWT yang luar biasa dan berhasil meraih laba sangat besar, sampai boss saya tidak percaya. Dari pengalaman itulah sy menulis Berharap Hanya Kepada NYA. Pengalaman ini saya bagikan kpd semua org,bahwa jika kita yakin dan pasrah kepada NYA,dalam hal apapun,kita akan melihat dan mersakan Kuasa dan Mukjizat Allah SWT. Bagi manusia bisa mustahil tapi bagi Allah SWT tidak ada yang mustahil.Amin

JENDRAL YANG TERLENA

Ada seorang jendral yg memiliki jabatan sangat penting,disegani,dihormati dan selalu disanjung oleh prajuritnya.Begitu sibuknya ia dengan berbagai kegiatan dan begitu bangga dg berbagai fasilitas dan kekuasaan yg dimilikinya.Pada suatu hari ia pensiun,ternyata begitu terkejutnya,ketika suatu hari,ia didatangi petugas dari bekas korps nya yg meminta ia untuk segera mengembalikan mobil dan mengosongkan rumah dinasnya yg luas dan mewah. Suatu saat sang jendral wafat, ketika berjalan menuju akhirat, dia bertemu dengan malaikat penjaga. Malaikat itu bertanya kepada sang jendral " Anda mau kemana". Jendral pun menjawab " Saya sedang menuju rumah saya di surga". Malaikat heran dan bertanya lagi " Rumah yang mana dan siapa nama anda ". " Nama saya Jendral ANU " jawabnya. malaikat memeriksa daftar orang yang meninggal hari itu dan dia tidak menemukan nama Jendral ANU, malaikat pun berkata " Di dalam daftar yang kupegang ini, tidak ada nama Jendral ANU, yang ada cuma ANU ". Sang jendral terhenyak sejenak, lalu dia baru sadar bahwa jabatan "Jendral" yang selama ini disandangnya tidak berlaku di akhirat. Lalu malaikat menambahkan " Dan kamu tidak memiliki rumah di sini " Mendengar ucapan itu, jendral ANU semakin terkejut. Dia baru sadar bhw selama hidupnya di dunia, dia terlena dg semua sanjungan, penghormatan dan berbagai fasilitas sebagai seorg jendral aktif yg sifatnya sementara. Dia lupa mempersiapkan rumah dan bekal utk masa pensiunnya. Akankah kita senang dengan semua gemerlap fatamorgana kehidupan kita dan sekitarnya yg sementara sifatnya, sehingga kita pun lupa mempersiapkan rumah kita kelak di akhirat dan tidak membekali diri kita dengan iman dan ibadah yg baik. Semoga kita tidak menjadi jendral seperti itu.

HIDAYAH KEHIDUPAN DI TENGAH LAUT

Saya,istri dan sibungsu usia 9 tahun,hari ini diijinkan Allah SWT mengarungi lautan lepas dari Pantai Barat Pangandaran menuju ke Pulau Nusakambangan sekitar 2 jam perjalanan menggunakan perahu nelayan.Pada awal ditawari utk berekreasi ke Nusakambangan (NK) oleh seorg nalayan,kami mendapat cerita bhw pulau NK (5jam perjalanan dr penjara NK) adlh pulau yg indah dan benar2 masih perawan,krn jarang dikunjungi oleh wisatawan lokal,selain alat transportasi hanya menggunakan perahu motor tempel yg sangat sederhana,ombak laut yg ganas dan biaya yg mahal. Karena keingintahuan,maka kami setuju utk kesana.Jam 8 pagi kami sudah siap dengan bekal yg akan dibawa dan berangkatlah menuju pulau NK.Perjalanan dimulai dan memasuki laut bebas dg gelombang yg cukup besar,walaupun saat ini bertiup angin Timur.Sepanjang perjalanan sy hanya bisa berserah dengan doa dan dzikir.Semakin jauh ke tengah laut,ombak semakin besar dan hati pun semakin menciut,belum lagi merasakan bgm perahu kami terangkat ombak dan motor tempel tdk berfungsi karena perahu terangkat ombak.2 jam kami berpacu dg ketegangan yg luar biasa,akhirnya tiba di pulau NK yg luar biasa indahnya,bukan cerita kosong nelayan. Pulau tak berpenghuni yg belum dirusak oleh nafsu manusia,benar2 pulau perawan dg pasir yg benar2 putih bersih dan berkilau, it's amazing island. Sekitar 4 jam kami menikmati dan mensyukuri ciptaan Allah SWT yg menakjubkan. Setelah itu 2 jam kemudian kami kembali memacu adrenalin ditengah laut yg masih blm jg tenang.Si bungsu terlihat agak ketakutan sepanjang pelayaran ditambah ombak yg semakin menggila. Dalam pikiran timbul pertanyaan kenapa saya nekad berlayar dengan perahu sederhana seperti ini dan mengarungi lautan yg begitu tidak bersahabat dan membawa keluarga dan membuat si kecil ketakutan. Setiba di pantai timur Pangandaran,kami kembali ke hotel. Malam hari saya mulai merenungkan apa yg terjadi sepanjang perjalanan kami,khususnya di tengah laut tadi siang. Ketika itulah saya diberi jawaban. Ada bbrp hal yg tidak dapat saya jawab,yakni Pertama,jika berekreasi kami tidak pernah pergi hanya dengan 1 anak,selalu 3 anak ikut.Kali ini semua sudah diatur Allah SWT,bahwa kami hanya membawa anak laki-laki bungsu saja. Sebenarnya kami berencana pergi bertiga,tapi entah kenapa satu persatu anak 1 dan ke 2 tidak bisa ikut,padahal jadwal sudah disesuaikan dg kuliah mereka. Kedua,apa yang Allah SWT ingin sampaikan melalui pengalaman ini. Jawaban yg diberikan Allah SWT sungguh luar biasa. Pada saat makan malam,saya bertanya pd anak saya,apakah dia takut ketika di tengah laut siang tadi. Dia menjawab takut terhadap gelombang laut. Pada saat dia menjawab, saya mendapatkan hidayah untuk menjawab seperti ini. Kenapa kamu yg diijinkan Allah SWT mengalami kejadian ini, karena laki-laki adalah imam dan pemimpin dalam keluarga, yang harus tegar menghadapi segala ujian. Pengalaman di tengah laut tadi adalah perjalanan hidup kita,yg tidak selalu lurus dan mulus. Ombak adalah analogi permasalahan dan tantangan hidup kita selama di dunia,dimana kadangkala kita harus menghadapinya sendiri. Doa dan Dzikir adalah satu-satunya kekuatan yg kita andalkan untuk melalui berbagai tantangan hidup dan pulau Nusakambangan yg indah adalah lambang akhir perjalanan hidup kita di dunia dan bermuara pada keindahan dan kekekalan. Suatu hikmah dan hidayah yang Allah SWT sudah sampaikan kepada kami terutama bagi anak laki-laki bungsu kami.Subhanallah.

KENALILAH TANDA JAMAN

Siapapun berhak untuk tidak mempercayai tentang ramalan, prediksi, perhitungan dan sebagainya tentang kontroversi bencana besar yang diperkirakan akan terjadi pada tanggal 21-12-2012. Kita tidak perlu menghakimi siapapun yang mempercayai hal itu dengan mengatakannya sebagai orang yang musryik dan sebagainya. Percaya tidak selalu harus "beriman". Musryik terjadi jika kita mengimani dan meyakini sesuatu melebihi iman kepada Allah SWT, sehingga menyekutukannya dengan NYA. Itu yang dilarang oleh Allah SWT.

Tanggal 21-12-2012 adalah suatu prediksi atau perhitungan kalender berdasarkan keilmuan yang terkait dengan kemampuan suku Maya di pedalaman Meksiko dalam hal ilmu falak, serta penelitian dan analisa para ilmuwan yang ahli dibidang astrologi dan antariksa. Orang mengunakan berbagai ilmu pengetahuan, penafsiran, perhitungan bahkan ramalan untuk mencoba melakukan analisa dan telaah dengan mengaitkannya dengan berbagai kejadian alam pada beberapa tahun terakhir ini dengan sistem perhitungan kalender suku Maya yang berhenti tepat pada tahun 2012.

Diluar kesibukan para ahli mengkaji berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada waktu tersebut, sebagai orang beriman, kita telah diajarkan untuk memperhatikan tanda-tanda jaman yang diberikan Allah SWT pada setiap kejadian di dalam kehidupan atau kejadian alam di sekitar kita, namun banyak dari kita kurang peduli dan bahkan mengabaikan hal itu. Contoh kejadian yang sederhana adalah isu tentang Global Warming (pemanasan global) yang jelas merupakan adalah salah satu tanda kejadian alam yang luar biasa, cobalah perhatikan, saya pribadi belum pernah mengalami panasnya matahari di kota hujan seperti Bogor misalnya, yang mencapai 37-38 derajat celcius sepanjang usia saya 48 tahun, lahir dan tinggal di kota ini, dan hal itu saat ini terjadi.

Kita melihat berbagai wabah penyakit aneh merebak hampir di seluruh dunia, seperti flu burung, flu babi atau flu Meksiko yang berasal dari binatang atau flu massal yang mewabah secara dahsyat di negeri kita ini, akibat perubahan iklim yang sangat ekstrem. Terjadinya berbagai bencana alam dahsyat di berbagai belahan dunia beberapa tahun terakhir ini, yang intensitas kejadiannya sangat sering dan dahsyat serta tanpa dapat diprediksi sebelumnya. Perang dan berbagai kejahatan yang dilakukan manusia atas manusia, ibu membunuh anak kandungnya sendiri, ayah membunuh diri bersama anak-anaknya dan kejahatan yang sangat mengerikan. Apakah kita hanya menganggap semua ini sesuatu yang “kebetulan” ?

Dari kutipan buku KAMUS AL QURAN yang disusun oleh Deni Hamdani Firdaus S.Pd.I yang diterbitkan Pustaka Ancala halaman 193 tertulis sebagai berikut :

- Keadaan Langit Di Hari Kiamat
Pada hari itu langit pecah belah, mengeluarkan kabut, terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak.Kemudian langit itu dilenyapkan. (Dikutip dari Al Quran surah 025:025,055:037,084:001-002,081:011)

- Keadaan Bintang, Bulan dan Matahari
Pada hari kiamat itu matahari diguilung dan bintang-bintang jatuh berserakan, bulan terbelah dan bulan kehilangan cahayanya. Saat itu matahari dan bulan dikumpulkan dan langit digulung. (Dikutip dari Al Quran surah 081:001-002,082:002,054:001,075:008-009)

- Keadaan Bumi Pada Hari Kiamat
Saat kiamat itu gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya seperti bulu yang dihambur-hamburkan, dihancurkan hingga keadaan bumi datar sama sekali, tidak terlihat ada yang rendah dan yang tinggi. Bersamaan dengan itu pula lautan meluap., bumi diguncangkan dengan guncangan dahsyat, bumi mengeluarkan beban berat yang dikandungnya, semuanya patuh dan sudah semestinya patuh. (Dikutip dari Al Quran surah 081:003,101:005,020:105,020:107,081:006,099:001-002,084:003-005)

Dari kutipan kejadian di atas yang telah tertulis dalam Al Quran, sebenarnya sudah diberitahu dengan jelas, agar kita mengamati semua tanda-tanda alam yang terjadi, sebagai rambu peringatan bagi umat manusia.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menakut-nakuti, tetapi mengajak agar manusia secara arif melihat semua kejadian di sekitar kita beberapa waktu terakhir ini, tidak hanya menggunakan “mata fisik” saja tetapi belajar memahami semua kejadian di dalam kehidupan kita dengan “MATA IMAN” yang sudah dikaruniai Allah SWT kepada setiap manusia. Bukankah Allah SWT seringkali menyampaikan pesan kepada kita melalui kejadian-kejadian alam, kehidupan sehari-hari yang sering luput dari perhatian kita, karena kita sudah terbiasa dengan kata “KEBETULAN” atau terlena akibat kesibukan “duniawi” kita masing-masing.

Ingatkah kita sebelum kumandang adzan subuh selalu terdengar kumandang kalimat "Asshalatu choirun minnan naum" yang arti harafiahnya lebih baik sholat daripada tidur, yang berperan sebagai alarm bagi setiap umat Islam, agar segera bangun dari lelapnya tidur dan mempersiapkan diri untuk melakukan ibadah sholat subuh. Saya mengajak pembaca untuk menelaah secara mendalam, makna yang terkandung dalam kalimat "Asshalatu choirun minnan naum" yang sekilas terkesan sangat sederhana.

Ada dua makna yang sangat penting dari kalimat itu, yakni pertama adalah kata Sholat dan Tidur. Ajakan kepada kita untuk sholat dalam kalimat ini, memiliki makna yang sangat luas dan tidak semata-mata hanya menunjuk pada waktu subuh atau bahkan 5 waktu semata, tapi menunjuk kepada detik demi detik kehidupan kita setiap harinya.

Di dalam Islam kita berkewajiban untuk melaksanakan ibadah sholat 5 waktu dalam sehari. Sholat 5 waktu itu melingkupi 24 jam sehari dalam kehidupan kita. 24 jam sama dengan 1440 menit atau sama dengan 86.400 detik.

Allah SWT mengingatkan kepada kita bahwa hubungan kita dengan Allah tidak hanya sebatas sholat 5 waktu itu saja, tetapi sesungguhnya 24 jam sehari. Sehingga melalui ungkapan "Asshalatu choirun minnan naum" kita selalu diingatkan agar jangan sampai satu detik pun “iman” dan “taqwa” kita tertidur.

Fisik bisa lelah dan tertidur, namun “iman” dan “taqwa” kita dituntut harus selalu “ON” agar jaringan komunikasi bathin kita tidak pernah terputus dengan Allah SWT alias tetap “ONLINE”. Bisa dibayangkan apa akibatnya jika suatu saat, hubungan kita terputus dengan “SUMBER KEHIDUPAN“ kita.

Apabila benar pada tanggal 21-12-2012 akan terjadi perubahan atau gejolak alam yang sangat dahsyat, itu berarti, waktu kita hanya tersisa kurang lebih 3 tahun. Mengamati reaksi yang terjadi di dalam masyarakat terhadap pemberitaan tentang 21-12-2012, ada yang resah dan panik sebaliknya juga ada yg tidak peduli.

Ketidakpedulian, jika karena yang bersangkutan "yakin dan pasrah" akan kuasa Allah SWT itu masih baik, tetapi bagaimana terhadap orang yang tidak pedulinya akibat ketidaktahuan atau memang tidak mau peduli ?

Pertanyaaan yang timbul adalah bagaimana jika apa yang dikuatirkan banyak orang tentang bencana pada tanggal 21-12-2012 itu akhirnya benar-benar terjadi sebagaimana ramalan atau prediksi para peramal, ilmuwan dan sebagainya, yakni bumi akan hancur dan sebagian besar manusia akan mati karenanya ?
Atau pertanyaan sebaliknya, bagaimana jika ternyata pada tanggal tersebut tidak terjadi sesuatu apapun ?

Kematian pasti datang, tanpa bisa kita duga atau prediksi waktunya dan jika saat itu datang, kapanpun, dimanapun, apakah kematian akibat terjadinya bencana pada tanggal 21-12-2012 atau bukan, kita harus siap menghadapinya, karena itulah Takdir Allah SWT. Siapkah kita akan hal itu ?

Marilah, di bulan penuh Anugerah dan Pengampunan ini, kita renungkan kalimat "Asshalatu choirun minnan naum", akankah kita akan tetap membiarkan “iman” dan “taqwa” kita terus tertidur lelap sementara tanda-tanda jaman sudah mulai dinyatakan oleh Allah SWT. Itulah makna mendalam kalimat "Asshalatu choirun minnan naum"

Ingatlah peringatan yang sudah disampaikan melalui Al Quran surah Al Hajj 22:1 yakni :
“ Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat) “

Marilah kita bersama-sama belajar bagaimana menjaga agar lampu pelita “iman” dan “taqwa” tetap menyala terus menerus 24 jam, 1440 menit dan 86.400 detik sepanjang hidup kita, walau apapun yang akan terjadi dan semoga kita senantiasa diberikan hidayah serta kepekaan bathin untuk mampu menyimak tanda-tanda jaman yang Allah SWT nyatakan di dalam kehidupan kita sehari-hari dan melalui kejadian alam yang kita lihat. Amin, Amin Ya Rabbal Alamin.

Pimpin Nagawan
20 Agustus 2009